Rekursif

Hari ini, memandang wajah-wajah penuh kelelahan dan nafas yang terengah-engah di bawah derasnya hujan itu membuatku kembali terkenang sebuah memori yang sudah lama tersimpan rapi di kotak ingatan.

Aku kembali teringat, dulu sekali, sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada kami saat itu. Saat yang tak jauh beda dengan suasana saat ini, tepat disaat guyuran hujan dan terpaan angin malam mencapai klimaksnya, di tengah tengah kegelapan rimba belantara yang terasa menyeramkan.

Beberapa pasang mata dengan nanar memandang perapian yang lidah apinya menjilat tinggi, tidak mampu menahan rasa nyeri karena hawa dingin yang sudah begitu merasuk ke dalam tulang. Sudah hampir dua puluh menit kami berdiri terdiam di sini.

“Untuk apa kalian berada di sini?”

“Enakan juga di kostan, anget, nggak basah, nggak kehujanan. Makanan banyak, nggak perlu survival.”

Tak ada jawaban, hanya terdengar desis kayu basah yang terbakar dan tetesan air hujan yang makin menggila.

“Jawab siswa!!!”

Kami tetap terdiam, perlahan menundukkan kepala, tak mampu menatap si empunya pertanyaan.

Api

***

Sudah hampir empat tahun sejak aku mendengar pertanyaan itu, belum juga kudapatkan rangkaian jawaban tepat yang bisa kuberikan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pertanyaan yang tak ubahnya seperti fungsi rekursif, ketika aku telah berpuas diri dan mengira sudah menemukan jawabannya, akan muncul tanda tanya kembali, seolah tetap meminta jawaban, yang lebih dari sebelumnya. Proses yang mungkin akan terus berulang sepanjang perjalanan hidupku. Tapi tak apalah, aku bersyukur telah mendapat pertanyaan tersebut.

Lagipula, bukankah hidup ini selalu penuh dengan pertanyaan yang terus berulang?

Bandung, Januari 2012.

Pendakian Puncak Agung, Tempat Suci Masyarakat Hindu Bali

Tiba tiba angkot hijau yang kami carter itu berhenti, tepat sebelum belokan. Seorang laki laki yang tampaknya sudah berusia cukup lanjut ternyata menghentikan kendaraan kami. Bapak itu berpakaian adat khas Bali, mengenakan udeng, kemeja putih dan kain jarik yang terlilit rapih di badannnya. Beliau menghampiri mobil kami dan mengatakan sesuatu. Kami mengangguk-angguk, sambil menahan senyum karena sebenarnya sama sekali tidak paham dengan apa yang beliau ucapkan. Untungnya sopir mobil kami bisa menjelaskan maksud bapak tersebut, kami harus turun untuk bersembahyang terlebih dahulu sebelum menuju Pura Pasar Agung. Untuk keselamatan katanya.

f8a72-img_2111

Setelah beberapa saat berembug akhirnya hanya Bedul, Bagus, Adi dan Cirit yang turun. Mereka berempat nanti akan dijemput lagi oleh angkot carteran kami. Sisanya langsung melanjutkan perjalanan saat itu juga, menuju Pura Pasar Agung yang letaknya memang sudah tidak jauh lagi. Waktu yang sudah menunjukkan pukul 11.00 mengindikasikan bahwa kami harus mempercepat pergerakan, menyesuaikan jadwal makan siang yang sudah tidak lama lagi. Continue reading “Pendakian Puncak Agung, Tempat Suci Masyarakat Hindu Bali”

Menapaki Puncak Tertinggi Pulau Lombok

Hamparan awan yang menggulung tampak jelas di kejauhan. Angin masih kencang berhembus, tetap menyiksa tubuh kami yang sudah terbalut beberapa lembar pakaian. Kelelahan di tubuh kami rasanya sudah memuncak, namun puncak Rinjani sudah terlihat sangat jelas di depan mata. Tidak sedikitpun terlintas di pikiran kami untuk menyerah.

515c5-100_8117

Jam di layar handphone sudah menunjukkan pukul 05.00. Venus, sang bintang fajar, masih lamat lamat terlihat di langit sebelah timur. Langit mulai tampak merekah. Cahaya kemerahan yang muncul seperti titik api perlahan mulai mewarnai gelapnya langit. Meskipun begitu, masih terlalu dini bagi kami untuk mematikan headlamp yang kami pakai. Langkah kecil kaki kami masih membutuhkan pemandu dalam meniti curamnya bibir kaldera.

Begitu sampai di sebuah dataran yang cukup landai, kami memutuskan untuk sejenak beristirahat. Nafas kami memburu, berusaha untuk menghirup sebanyak-banyaknya oksigen. Suhu udara yang dingin dan rasa lelah yang luar biasa memaksa tubuh kami membakar kalori yang dimilikinya semaksimal mungkin. Continue reading “Menapaki Puncak Tertinggi Pulau Lombok”

Pendakian Gunung Burangrang Pada Diklan Search And Rescue JR

Udara terasa semakin panas aku rasakan ketika kami berjalan melintasi sebuah jalan yang dipenuhi dengan batu batu itu. Maklum, beban berat dan jalan menanjak membuat tubuh kami terus menerus mengeluarkan keringat. Siang  itu, kami berlima, Aku, Kresna, Blasius, Yovie dan Sigit baru saja meninggalkan sebuah kampung kecil di kaki Gunung Burangrang, sebuah desa yang sekaligus juga menjadi pintu masuk ke kawasan pelatihan TNI Situ Lembang.

18426-dsc05681

Siang itu kami sedang menjalani pendidikan lanjur SAR. Sesuai dengan namanya, dalam kegiatan ini kami akan mempelajari dan mempraktekkan bagaimana sebuah operasi SAR dilaksanakan, khususnya adalah operasi SAR di medan gunung hutan. Kami akan melakukan simulasi pencarian korban yang hilang ketika melakukan pendakian. Pendidikan lanjut SAR ini diadakan pada 30 Mei – 2 Juni 2008, berlokasi di Kawasan Gunung Burangrang, Lembang, Jawa Barat. Continue reading “Pendakian Gunung Burangrang Pada Diklan Search And Rescue JR”