Racauan Hujan

Kalaupun akhirnya hujan turun siang nanti, sudah tidak ada yang perlu disesalkan lagi bukan.

Biarkan saja awan awan hitam itu bercanda di atas sana, saling melempar atom positif dan negatif. Bukankah itu sebuah proses indah yang kelak melahirkan benih benih kilatan petir dan halilintar halilintar yang kemudian akan lekas beranjak dewasa dan menyapa kita dengan riangnya? Biar saja mereka menikmati kebersamaannya siang ini. Tak usah lah kau cemburu pada mereka.

Kalaupun akhirnya hujan turun siang nanti, sudah tidak ada yang perlu disesalkan lagi bukan.

Tetes air hujan yang membasahi rambutmu siang ini bukanlah tangis kesedihan awan awan hitam di atas sana. Itu adalah tangis kebahagian. Aku rasa kau pun tau, tak ada orang tua yang punya kuasa menahan kepergian anaknya bila itu untuk kebaikan? Kalaupun ada air mata yang menetes, isak tangis yang tertahan ataupun ucapan yang terbata, bukankah itu semua ungkapan kebahagiaan mereka?

Jadi, janganlah kau bersedih. Tak perlu lah kau titikkan air mata mu itu.

Bukankah kau pun tau kalau rintik hujan siang ini adalah tangis kebahagiaan awan awan hitam di atas sana?

Tapi bila memang kau merasa tak mampu, bersabarlah sedikit. Cobalah kau yakinkan dirimu akan ada secercah senyum di wajah mereka. Bukankah selepas hujan yang turun membasahi bumi akan tampak langit biru berhiaskan pelangi di atas sana.

Bandung, Desember 2011.

Rekursif

Hari ini, memandang wajah-wajah penuh kelelahan dan nafas yang terengah-engah di bawah derasnya hujan itu membuatku kembali terkenang sebuah memori yang sudah lama tersimpan rapi di kotak ingatan.

Aku kembali teringat, dulu sekali, sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada kami saat itu. Saat yang tak jauh beda dengan suasana saat ini, tepat disaat guyuran hujan dan terpaan angin malam mencapai klimaksnya, di tengah tengah kegelapan rimba belantara yang terasa menyeramkan.

Beberapa pasang mata dengan nanar memandang perapian yang lidah apinya menjilat tinggi, tidak mampu menahan rasa nyeri karena hawa dingin yang sudah begitu merasuk ke dalam tulang. Sudah hampir dua puluh menit kami berdiri terdiam di sini.

“Untuk apa kalian berada di sini?”

“Enakan juga di kostan, anget, nggak basah, nggak kehujanan. Makanan banyak, nggak perlu survival.”

Tak ada jawaban, hanya terdengar desis kayu basah yang terbakar dan tetesan air hujan yang makin menggila.

“Jawab siswa!!!”

Kami tetap terdiam, perlahan menundukkan kepala, tak mampu menatap si empunya pertanyaan.

Api

***

Sudah hampir empat tahun sejak aku mendengar pertanyaan itu, belum juga kudapatkan rangkaian jawaban tepat yang bisa kuberikan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pertanyaan yang tak ubahnya seperti fungsi rekursif, ketika aku telah berpuas diri dan mengira sudah menemukan jawabannya, akan muncul tanda tanya kembali, seolah tetap meminta jawaban, yang lebih dari sebelumnya. Proses yang mungkin akan terus berulang sepanjang perjalanan hidupku. Tapi tak apalah, aku bersyukur telah mendapat pertanyaan tersebut.

Lagipula, bukankah hidup ini selalu penuh dengan pertanyaan yang terus berulang?

Bandung, Januari 2012.