Mendengarkan Musik di Kereta

Ia berdiri di dekat pintu. Tangan kirinya berpegangan pada gelang plastik berwarna kuning yang menggantung dari atap kereta. Satu tangan yang lain, ia menggunakannya untuk memegang sebuah buku; jempol dan jemari telunjuknya diregangkan guna menyangga halaman buku yang terbuka seperti sayap kupu-kupu tersebut.

Jika kau ada di dekatnya, kau bisa melihat ia membaca dengan kecepatan yang tinggi, matanya bergerak cekat sekali. Seperti melompat-lompat dari satu kata langsung ke beberapa kata di depannya.

Kau tentu paham bagaimana ramainya kereta pagi-pagi di Jakarta. Apalagi pada hari Senin seperti ini. Orang-orang yang berjejalan di dalam gerbong, dengan tatapan mata kosong seperti tak punya semangat hidup, mirip dengan para Yahudi yang hendak dibawa ke Auschwitz oleh Pemerintah NAZI. Continue reading “Mendengarkan Musik di Kereta”

Di Sekitar Tugu Monas

12234931_10207318171185416_1331867356383236961_n___

Saya sedang terpekur dengan khusyu’ ketika seseorang yang entah dari mana datangnya tiba-tiba menghampir ke tempat saya duduk, sebuah bangku besi dengan cat mengelupas yang berada di atas trotoar. Sudah hampir tengah malam saat itu, meski kendaraan masih saja ramai berlalu-lalang. Mungkin karena besok adalah hari Minggu.

Ia bilang kalau hendak pergi menemui salah seorang kawannya di daerah Kampung Melayu, tetapi tidak tahu apa kendaraan umum yang harus dinaikinya. Saya bilang kepadanya, jika sudah larut malam begini, hampir mustahil kalau ada kendaraan umum yang masih beroperasi. Mungkin taksi, lanjut saya kepadanya. Continue reading “Di Sekitar Tugu Monas”

Jatuh dan Tertawa

Sudah jatuh, tertimpa tangga.

Sering sekali saya mendengar orang menggunakan peribahasa barusan untuk menggambarkan nasib sial yang datang beruntun. Belakangan, entah kenapa, begitu mendengar atau membaca peribahasa tersebut, sosok yang kemudian terlintas di benak saya adalah seorang tukang bangunan dari kampung saya dulu.

Di kampung saya, sudah jamak jika orang pergi merantau. Tidak terkecuali tukang bangunan yang baru saja saya sebutkan itu. Maka pada suatu hari yang cerah selepas Lebaran, atas ajakan beberapa tetangganya, pergilah ia merantau ke kota. Melempar harap, mengadu nasib, atas kehidupan yang lebih baik.

Untitled

Lagipula, jika hanya bertahan di kampung, penghasilannya tidak pernah menentu. Kebutuhan terhadap pekerja bangunan tidak selalu ada setiap harinya. Continue reading “Jatuh dan Tertawa”

Sudahkah Kamu Minum Obat?

Joni datang lagi ke pangkalan dengan wajah yang kemrungsung–yang tak enak betul dilihat. Sebelah tangannya memegangi bagian samping kepalanya yang peyang seperti telur asin. Sweater pudar yang tadi dipakainya kini ia lingkarkan di leher.

Sekira satu jam yang lalu ia bilang kepadaku kalau sudah dua malam terakhir ini badannya terasa menggigil. Seperti disiram air es, katanya.

“Mendingan kau ke klinik saja. Kau cobalah itu kartu yang bulan lalu dibagikan oleh Pak Narmo. Katanya kan gratis buat berobat.” Sesungguhnya aku menyarankan hal tersebut karena penasaran ingin tahu apakah kartu-kartu itu betulan bisa gunakan. Continue reading “Sudahkah Kamu Minum Obat?”