Mendengarkan Musik di Kereta

Ia berdiri di dekat pintu. Tangan kirinya berpegangan pada gelang plastik berwarna kuning yang menggantung dari atap kereta. Satu tangan yang lain, ia menggunakannya untuk memegang sebuah buku; jempol dan jemari telunjuknya diregangkan guna menyangga halaman buku yang terbuka seperti sayap kupu-kupu tersebut.

Jika kau ada di dekatnya, kau bisa melihat ia membaca dengan kecepatan yang tinggi, matanya bergerak cekat sekali. Seperti melompat-lompat dari satu kata langsung ke beberapa kata di depannya.

Kau tentu paham bagaimana ramainya kereta pagi-pagi di Jakarta. Apalagi pada hari Senin seperti ini. Orang-orang yang berjejalan di dalam gerbong, dengan tatapan mata kosong seperti tak punya semangat hidup, mirip dengan para Yahudi yang hendak dibawa ke Auschwitz oleh Pemerintah NAZI. Continue reading “Mendengarkan Musik di Kereta”

Membaca Hujan Bulan Juni di Dalam Kereta

Seperti sedang berada di dunianya sendiri, khusyuk betul perempuan itu menekuri buku yang dipegangnya dengan kedua tangan itu. Penumpang yang sesekali berhilir mudik dan laju kereta komuter yang kadang berguncang-guncang seolah tak menjadi gangguan untuknya.

Processed with VSCOcam with t1 preset

Di dalam kepala saya setidaknya ada dua kemungkinan yang mungkin menjadi alasannya : pertama, ia memang kutu buku atau kedua, buku yang dibacanya sangatlah menarik. Kemungkinan kedua inilah yang kemudian membuat saya jadi kepikiran cukup lama. Continue reading “Membaca Hujan Bulan Juni di Dalam Kereta”

Train Song

Karena satu dan lain hal, beberapa akhir pekan terakhir saya acap kali melewatkan malam hari di atas bangku panjang gerbong kereta. Ketika menggunakan kendaraan pribadi terasa menjemukan karena kemacetan yang kian lama semakin menjadi, kereta komuter menjadi pilihan yang menyenangkan untuk membawa saya pulang – pergi, dari dan ke pusat kota.

Seperti pada minggu kemarin misalnya. Usai menonton pementasan Tika And The Dissident dan Adrian Adioetomo di AtAmerica, saya menikmati sekitar 25 menit waktu santai yang sayangnya menjadi terasa begitu singkat dalam perjalanan dari Stasiun Sudirman hingga Stasiun Pondok Ranji, plus beberapa menit transit berganti kereta di Stasiun Tanah Abang.

Dalam selang waktu tersebut, ada  lima lagu yang berada dalam playlist pemutar musik saya. Lima lagu yang saya pilih tersebut, “tidak sangat sangat berkorelasi” sebenarnya, terutama menyoal konteks hubungan dengan perjalanan berkomuter saya. Berkorelasi, tapi dalam kadar yang rendah saja, itu pun kontradiktif, lebih berdasar pada suka suka saja proses pemilihannya.

9c5ec-scene-on-the-new-york-subway-1969-2

1. The Clash – Train In Vain (Stand By Me)

Lagu ini adalah track siluman yang muncul dalam album terbesar The Clash, London Calling. Saya menyebutnya siluman karena keberadaannya tidak tercantum dalam sleeve cover album yang legendaris itu (yang juga merupakan sindiran telak bagi musik Rock N Roll ala Elvis Preasley). Bagaimana tidak, track ini baru selesai direkam menjelang sesi akhir rekaman mereka, sedang sleeve cover album sudah masuk ke mesin percetakan.

Meski begitu, “Train In Vain” justru menjadi track pertama dari The Clash yang berhasil menyodok ke industri musik populer dengan berhasil masuk ke dalam chart Top 30 di Amerika Serikat. Lagu ini turut pula dimasukkan ke dalam The 500 Greatest Song of All Time versi majalah Rolling Stone di urutan ke 298.

Sebenarnya lagu ini terinspirasi oleh cerita yang miris nan menyedihkan. Perihal kisah cinta Mick Jones, bassist The Clash, yang kandas. Seringkali Jones menggunakan kereta api menuju kawasan Shepherds Bush, untuk menemui Viv Albertine, pacarnya. Sayang, meski sudah datang dari tempat yang jauh, terkadang Viv tak membolehkan Jones masuk ke dalam rumahnya, Viv hanya membiarkannya berdiri di seberang pintu. Maka Jones pun sekali lagi menggunakan kereta, kali ini untuk pulang, sebagai orang yang tertolak.

Dan abrakadabra, jadilah lagu ini.

Now I got a job, but it don’t pay
I need new clothes, I need somewhere to stay
But without all these things I can do

But without your love
I won’t make it through

But you don’t understand my point of view
I suppose there’s nothing I can do

2. M83 – Midnight City

Fenomena Skrillex dan kemunculan kembali Daft Punk seolah menjadi suntikan cairan infus yang baru di skena danceelectronic music yang di awal dekade ini seperti tenggelam. Satu nama lain yang tidak boleh dilupakan tentunya adalah M83, kolektif dari Prancis yang terdiri dari Antony Gonzales, Morgan Kibby, Jordan Lawlor, Louic Maurin dan Ian Young.

“Midnight City” adalah single pertama di album keenam M83, Hurry Up, We’re Dreaming yang dirilis di pertengahan tahun 2011 lalu. Lagunya benar benar mengasyikan, dengan suara vokalis yang atsmospheric, backsound yang ber-layer layer, dentuman drum lantai dansa dan suara saxophone yang muncul di penghujung lagu.

Ketika hari telah beranjak petang, entah kenapa saya selalu betah berlama lama menunggu datangnya kereta di Stasiun Sudirman. Auranya yang gloomy, kukira adalah satu penyebabnya. Tempat yang tepat untuk sejenak merasakan kedamaian, sedikit nostalgia, dan membiarkan diri untuk menjadi lebih melankolis. Berpikir tentang hidup dan kehidupan. Oke, ini sedikit berlebihan.

Waiting in a car
Waiting for a ride in the dark
The night city grows
Look at the horizon glow

Waiting in a car
Waiting for a ride in the dark
Drinking in the lights
Following the neon signs

Waiting for a word
Looking at the milky skyline
The city is my church
It wraps me in its blinding twilight

3. The S.I.G.I.T – Money Making

Commuter Line, begitu PT KAI memberikan label kepada kereta yang sedang saya tumpangi, adalah salah satu saksi yang bisa menjadi bukti kesibukan sebagian besar kaum urban Jakarta. Pada jam prime time, antara pukul enam sampai sembilan pagi dan lima hingga delapan petang, kita semua bisa melihat segala rupa bentuk manusia yang punya hajat di Jakarta. Anda bisa melihat pemuda necis berdasi, kakak kakak cantik yang bermode masa kini, ibu ibu pedagang buah di pasar pasar tradisional, para remaja berpakaian sekolah, hingga terkadang, aparat negara yang bersetelan coklat coklat.

Melihat segala rupa tersebut, saya teringat sebuah esai pendek yang kapan hari saya baca, judulnya “Tukang”, ditulis oleh Aris Setyawan, drummer Aurette And The Polska Seeking Carnival. Ada paparan menarik yang dia ungkap perihal sistem pendidikan yang sekarang berlangsung. Mengutip kritikan Piere Bourdieau, kaum intelektual pada akhirnya tidak akan menjadi corong bangsa, mereka tak akan jadi penggerak perubahan agar kehidupan kemanusiaan menjadi lebih baik. “Kaum intelektual” katanya, “setelah lulus kuliah akhirnya akan menjadi alat bagi korporat, untuk menggerakan roda perputaran uang.”

Melihat realita sekarang ini, agaknya esai Aris Setyawan benar benar tepat sasaran. Ada beberapa orang yang akhirnya berani mengambil sikap dan melawan pola sekolah – kuliah – pegawai, memilih untuk menjadi relawan LSM, penulis, seniman atau beberapa aktivitas non profit lain, tapi toh jumlahnya tidak banyak. Sekarang, dimana banyak orang terjebak pada paradigma bahwa parameter kebahagiaan dinilai dari seberapa banyak kekayaan, atau kesuksesan yang diukur dari jumlah nominal di rekening tabungan, menjadi part yang menyusun mesin pencetak uang itu adalah pilihan yang akhirnya banyak kita ambil.

Dan di dalam commuter line yang melaju ini lah, salah satunya, kita bisa melihat bentuk orang orang tersebut. Sepertinya saya adalah salah satunya.

Who neds to be a debaser
All we need is to be a survivor
We’ve been searching for answer
But what school has taught were money making

Money making
A search for a thrive
Money making
Design for a life
Money making
Work untill five
Money making hell

4. College ft Electric Youth – A Real Hero

Beberapa hari yang lalu kita baru saja meninggalkan tanggal 17 Agustus, hari dimana proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dikumandangkan. Maka perihal kepahlawanan adalah sesuatu yang lazimnya kita dengar belakangan ini.

Bolehlah kita kemudian meragu dan mulai bertanya, siapakah para pahlawan itu? Atau, meminjam salah satu wacana polemik yang tempo hari sempat ramai, atas dasar apa seseorang bisa diberikan gelar pahlawan?

Menurut lagu College ft Electric Youth ini, definisi pahlawan bukanlah sesuatu yang sifatnya monumental, sesuatu yang sakral, sesuatu yang wahh. Pahlawan dalam penggambaran mereka, adalah orang orang yang biasa biasa saja. Mereka bisa saja, seorang petani, pustakawan, penerjemah, petugas jagawana, atau seperti dalam lirik mereka seorang pilot pesawat terbang. Mereka para pahlawan ini, adalah mereka yang tahu apa yang mereka kerjakan, mereka yang melakukan pekerjaan mereka dengan sebaik baiknya, mereka yang meminjam kalimat Zen RS, “adalah yang tidak merutuki gelap, tapi memilih menyalakan lilin, betapa pun sayu dan kecilnya nyala lilin itu.”

Pahlawan kukira adalah, mereka yang menjadi manusia, manusiawi, selayaknya seorang manusia.

A pilot on a cold, cold morn’ (morning)
155 people on board
All safe and all rescued
From the slowly sinking ship
Water warmer than
His head so cool
And that type “I knew what to do”

And you, have proved, to be
A real human being
And a real hero

5. Bangkutaman – Ode Buat Kota

Berbicara mengenai Commuter Line, sekali lagi, tentunya berkaitan erat dengan profil Jakarta sebagai sebuah kota. Dan mengenai Jakarta, menurut saya lagu Bangkutaman berikut ini adalah penggambaran yang menarik tentang Jakarta. Ketika banyak musisi lain menceritakan Jakarta dalam sisi menyebalkannya, Acum, Irwin dan Dedyk menyanyikan Jakarta versi mereka dari sisi yang berbeda; satir, tapi humanis dan terasa bersahabat.

Hubungan banyak orang dengan Jakarta, kukira, adalah seperti seperti sepasang kekasih yang gamang, mereka putus tapi masih saling mencinta, memakai bahasa selebritas, terjebak dalam relasi love and hate. Pada satu saat mereka saling memaki, di suatu ketika yang lain saling merindu dengan dahsyatnya. Ada harapan dalam hubungan itu, juga bayang bayang kegagalan, mirip seperti yang dirasakan para Jakartans bukan?

Dan siapa pula yang tak akan tergerak ikut bersenandung mendengar lagu seriang ini, koor massal “naa na na na na naa naa” bersama. Sing along yang hampir selalu ada di setiap konser mereka.

Tuk suara bising di tiap jalan
Tuk suara kaki yang berlalu lalang
Tuk suara sirene raja jalanan
Tuk suara sumbang yang terus berdentang
Na na na nana nana na, na na na nana, na na na nana..

Di sinilah aku dibesarkan
Di hamparan sungai yang kian hitam
Di ujung jalan sempit yang terus tergenang
Di bawah jembatan ku bernyanyi riang
Na na na nana nana na, na na na nana, na na na nana..

Kubernyanyi untuk dia yang kesepian di tengah malam
Kubernyanyi untuk dia yang tak bisa pulang
Kubernyanyi untuk dia yang membunuh waktu di tengah kebosanan
Kubernyanyi untuk dia yang sendiri dan tak bertuan
Na na na nana nana na, na na na nana, na na na nana..

Bintaro, Agustus 2013.

ps : judul dipilih dari salah satu track Bangkutaman di album Ode Buat Kota. Ohh iya, barusan tadi Acum duduk tepat di belakang saya, benar benar kebetulan yang menyenangkan.