Yang Saya Dengar Tadi Pagi Ketika Memulai Hari

“Bangunlah pagi-pagi, biar nanti rejekimu tidak hilang dipatok ayam.” — Anonim.

Begitu satu dari sekian banyak nasehat yang sering sekali diujarkan kepada saya sewaktu kecil dulu, dan karenanya masih sangat terbawa hingga kini.

Barangkali nasehat barusan masih sangat relevan untuk sebagian orang. Mungkin juga tidak.

Kita tentu tidak bisa memaksakan orang yang–karena satu dan lain hal harus–bekerja pada tengah malam hingga dini hari untuk bersegera bangun di pagi hari juga, bukan?

Loh, memangnya ada pekerjaan semacam itu?

Continue reading “Yang Saya Dengar Tadi Pagi Ketika Memulai Hari”

Selamat Menjadi Tua dan Semoga Tetap Ceria !!!

Kau tahu doa apa yang sekiranya sering diucapkan ketika momen perayaan ulang tahun tiba dan membuatku ingin tertawa sekencangnya? Aku rasa beberapa hari yang lalu pun pasti ada juga yang mengucapkannya padamu; doa agar kau semakin dewasa.

Dewasa? Hahaha… Aku tak tau seperti apa kau memaknai kata itu. Tapi bagiku, bersikap dewasa tak lebih dari keharusan untuk semakin pintar dalam berpura pura. Pada titik ini kurasa aku tak perlu menjabarkannya lebih lanjut, sudah barang tentu kau mengerti maksudku bukan?

Ya sudahlah, aku sedang tak ingin menguliahimu macam macam. Di bawah ini telah aku pilih delapan lagu yang sengaja kususun sebagai hadiah ulang tahunmu. Kenapa delapan? Karena delapan itu tersusun dari lingkaran bulat, dan lingkaran bulat itu mengingatkanku padamu (seperti semua orang yang lain juga sepertinya).

Satu lagi, jangan protes dengan pilihanku. Bukankah pemberi hadiah punya hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat perihal apa yang akan diberikannya bukan? Dan lagi, telah berulang kali kau menyuruhku agar sekali kali bisa bersikap egois, anggap saja ini latihannya.

Jadi, mari kita mulai.

545ce-sigurros

Aku tahu kau tak pernah bisa merasa menjadi bagian dari kota ini. Mungkin pula benar kota ini bersikap tak ramah untukmu, membuatmu terasing dalam keriuhan. Maka, seperti yang diungkapkan Ben Gibbard, vokalis Death Cab For Cutie, dalam “You Are The Tourist”, aku rasa inilah waktu yang tepat untukmu beranjak pergi dari sini.

“When there’s doubt within your mind, because you’re thinking all the time. Framming right into wrongs. Move along, move along.”

Ohh iya, aku baru ingat, sebentar lagi kan kau memang akan pergi dari kota ini. Tapi ya sudahlah, biarkan saja Death Cab For Cutie tetap ada di mixtape. Anggap saja sebagai pengingat jika kau merasakan hal yang sama dengan tempat pindahmu kelak.

Pilihan kedua dalam mixtape yang kususun ini jatuh pada salah satu lagu Banda Neira yang berjudul “Di Beranda”. Lagu yang syahdu sekali menurutku, percakapan sepasang orang tua yang berusaha ikhlas dalam melepas kepergian anak kesayangannya.

“Dan jika suatu saat, buah hatiku, buah hatimu, untuk sementara waktu pergi, usahlah kau pertanyakan kemana kakinya kan melangkah.”

Tak perlu dipungkiri, memang berat rasanya melepas sementara waktu orang yang kita sayangi. Tapi kalau kepergian orang tersebut adalah hal yang memang harus dia lalui demi kebaikan, adakah hak kita untuk menghalanginya? Lagipula kau harus tahu, sama seperti yang orang tuamu rasakan terhadapmu, “Kita berdua tahu, dia pasti, pulang ke rumah.”

Lagu selanjutnya berasal dari salah satu band folk kesukaanku, Knee and Toes. Sejujurnya aku tak memiliki sedikitpun bayangan kemana lagi kau akan pergi setelah ini, ke negeri sakura kah, daratan berdebu di Amerika, atau malah kembali bertemu dengan musim dingin Eropa Utara sana?

Kemanapun itu, kurasa lagu berjudul “A Journey” ini pas sebagai pengantar kepergianmu yang tak akan lama lagi itu.

“Find the way, find the treasure. Listen to your heart and follow your dream,” terdengar familiar rasanya, mirip kata kata sang alchemist dalam buku karangan Paulo Coelho kesukaanmu.

Aku sudah lupa berapa kali kau bercerita padaku, hampir bosan sebenarnya, bahwa kau ingin sekali pergi ke tempatmu tinggal beberapa tahun yang lalu, ke tempat yang begitu dingin kurasa, negeri yang tak jauh dari Kutub Utara sana. Tapi barangkali rasa cinta mu itu memang bisa mengalahkan apa saja, salju pun mungkin bisa meleleh dibuatnya. Dan “Northern Sky” yang dinyanyikan Mister And Missisippi ini mungkin pas dengan apa yang kau rasakan saat ini bukan?

Barangkali kenyataan dalam hidup tak selalu ber-ending seperti cerita FTV, dimana setiap tokoh akhirnya tersenyum bahagia dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Kau tau, kadang percintaan bisa kandas di tengah jalan, seperti juga mimpi indah yang akhirnya berakhir dalam tong sampah.

“Oh someday sometime, youll stuck in loneliness and disappointment, and you cried loud. Oh someday sometime, things turn bad and you will be upset and crying loud,” begitu kata Aurette and The Polska Seeking Seeking Carnival pada lagu berjudul “Someday Sometime” yang termuat dalam album perdana mereka. Toh memang ada beberapa hal yang terjadi di luar kuasa kita.

Kukira wajar jika suatu saat kelak kau tiba tiba merasa sendirian, merasa terpisah dengan orang orang lain yang bertingkah seperti orang aneh dan tak wajar di matamu.

“Why’s everybody actin funny? Why’s everybody look so strange?” seperti ratap penuh emosi Dean Wareham dari kolektif Galaxy 500 dalam lagunya yang berjudul “Strange”.

Ada kalanya kau memang harus melawan, tapi mungkin juga ada waktu kau harus menerima kenyataan dan berdamai dengannya. Saat itu tiba, luangkan waktumu untuk melakukan hal hal kecil yang bisa membuatmu merasa lebih enakan, dan tunggulah sampai semua mereda.

“I stood in line and ate my twinkies. I stood in line, I had to wait.”

Ketika kau terjatuh, seorang teman mungkin bisa membantumu berdiri, tapi sebenar-benarnya yang bisa membuatmu berdiri tegak kembali adalah dirimu sendiri.

“Mungkin kini ku lelah, tak berarti mudah tuk terlelap. Saat semua berjalan lambat, saat banyak hal yang dikorbankan, saat tak ada yang bersuara. Tersenyumlah, tersenyumlah lebar, dan tunjuk ke atas.”

Aku tak perlu bercerita apa apa tentang lagu yang barusan saja kau baca liriknya, cukuplah kau dengarkan saja lagu berjudul “#1” dari The Morning After ini, dan tentukan sendiri bagaimana kau akan memaknainya.

Rasanya aku harus kembali pada bahasan pertama yang kupakai untuk membuka tulisan ini, tentang pertambahan usia. Benar bahwa semakin bertambah usia kita maka akan bertambah pula tanggung jawab kita, kenyataan yang tak akan pernah bisa kita hindari.

Tapi kurasa seharusnya hal tersebut tak boleh mengurangi keceriaan kita dalam menjalani kehidupan bukan? Dan dalam hal ini, tak pernah ada lagu lain yang cocok selain “Hoppippola/Med Bloodnasir” milik band post rock yang baru saja kutonton di Jakarta, Sigur Ros.

Coba kau lihat video clip nya, setelahnya aku yakin kau pun setuju bahwa menjadi tua tak boleh membuat kita menjadi terlalu serius dan akhirnya berubah membosankan.

Selamat bertambah tua! Tetaplah bersenang senang!! Hahaha…

Bintaro, Mei 2013.

ps: lagu lagu di atas diartikan seenaknya saja oleh saya, kalau salah silahkan artikan sendiri.

Indonesian Folk Duo

Pada World Cup 2006 lalu, dunia seolah dikejutkan dengan keluarnya skuad Italia sebagai juara dunia. Bagaimana tidak, tim Azzuri datang dengan background kondisi yang carut marut, kompetisi di negeri pizza itu diguncang skandal calciopoli. Mayoritas punggawa timnas adalah pemain pemain yang timnya diduga terlibat kasus tersebut. Juventus, Milan dan beberapa tim yang lain tengah diusut dan bersiap menghadapi ketuk palu vonis yang seperti hanya tinggal menunggu waktu saja. Namun kemudian kita semua tahu pada akhirnya Italia berhasil menjadi kampiun, mengalahkan Prancis lewat adu penalti dalam laga final yang kontroversinya akan terus diperbincangkan hingga beberapa puluh tahun ke depan.

Salah satu kunci utama yang menjadi inti keperkasaan Italia adalah komposisi maut yang menghuni lini tengah mereka. Bilangan dua yang memegang kunci kestabilan permainan, Gennaro Gattuso dan Andrea Pirlo adalah salah dua double pivot terbaik sepanjang sejarah sepak bola dunia.

Pirlo, sang regista, tentu membutuhkan pendamping untuk memberikan rasa aman dalam menjalankan tugasnya, diperankan secara sempurna oleh Gattuso. Pirlo sebagai dirigen pemegang metronom yang mengorkestrasi permainan tim, dengan senjata utama berupa passing bola kelas dewa. Gattuso adalah badak, dalam artian harfiah, mampu berlari konstan tanpa henti ke tiap inch lapangan, sambil melabrak tiap tiap apa yang ada di depannya, tanpa ampun sedikit pun.

Pirlo yang kalem bersanding dengan Gattuso yang kita semua tahu, explosif dan sangat meledak ledak. Namun toh ternyata, keduanya justru saling melengkapi, Rino menghancurkan serangan lawan, Pirlo menciptakan peluang bagi kawan. Keduanya adalah komposisi yang pas, saling melengkapi satu sama lain.

Ups, sebelum saya justru melantur terlalu jauh membicarakan sepakbola, di bawah ini adalah daftar berisi band, maksud saya duo beraliran folk yang beredar di skena musik indie di Indonesia. Kenapa folk? Karena saya hampir hampir selalu terpesona dengan komposisi yang bisa dimunculkan oleh genre yang kadang cukup dimainkan hanya dengan satu instrumen gitar kopong ini saja. Lalu kenapa duo? Karena terma pasangan adalah untuk suami-istri dan duet adalah untuk Anang-Syahrini.

Sayangnya karena referensi musik saya yang teramat cethek, mungkin se-cethek Kali Ciliwung yang dasarnya sudah dipenuhi sampah, maka urutan angka di bawah hanya berhenti di angka tujuh. Kalau mungkin ada yang berkenan menambahkan, sila tinggalkan komentar di laman ini.

fb941-about-piece-600x300

 

1. Banda Neira

Memproklamirkan diri sebagai pengusung genre nelangsa pop, Banda Neira membawakan lagu lagu yang teramat menyenangkan untuk didengarkan berulang ulang, cocok sebagai teman menyeduh teh, membaca buku kesukaan atau ketika duduk duduk santai di beranda rumah pada sore hari yang cerah.

Banda Neira adalah Rara Sekar dan Ananda Badudu, yang dibentuk sebagai proyek iseng mereka berdua. Terbentuk pada bulan Februari 2012, konsepnya sederhana, dua orang dan satu gitar. Rara bernyanyi dan Ananda bermain gitar mengiringinya, sambil sesekali terkadang xylophone ikut menyempil. Kedua personel Banda Neira ini tinggal terpisah kota, antara Jakarta dan Denpasar, seperti pacaran LDR saja ya.

Hahaa.. Oiya sepertinya mereka lebih memilih disebut sebagai band daripada duo, entah karena alasan apa.

Banda Neira telah melepas satu EP, Di Paruh Waktu yang dapat diunduh secara cuma cuma via internet. Pada Desember 2012 lalu, menurut situs tumblr mereka, Banda Neira masuk studio kembali. Kabarnya mereka sedang merekam album baru yang akan launching pada pertengahan April ini. Teaser album yang diberi judul Berjalan Lebih Jauh ini sudah dipublik secara luas sekitar sebulan yang lalu, bisa kalian simak di bawah ini.

2. Stars & Rabbit

Saling melengkapi. Mungkin itulah yang seharusnya dilakukan oleh dua orang yang berelasi. Sama seperti dua orang dalam Stars & Rabbit ini. Elda sebagai singer, dan Adi sebagai pengiringnya. Elda menulis lagu dan Adi membuat aransemennya.

Stars & Rabbit terbentuk pada medio awal 2011, di kota indah nan menetramkan, Yogyakarta. Kalau mungkin masih ada yang ingat, Elda adalah jebolan salah satu reality show pencarian vokalis band di sebuah stasiun televisi. Yang saya ingat dari Elda adalah karakter suaranya yang begitu unik, beda dengan biduan wanita kebanyakan.

Lama tidak terdengar kabarnya, pertengahan tahun 2011 Elda bersama Adi merilis sebuah single yang menjadi theme song sebuah acara radio. Ternyata lagu yang berjudul “Worth It” tersebut banyak disuka orang, bahkan hingga mencapai pendengar di Inggris Raya sana. Mulai dari situ kemudian Stars & Rabbit mulai sibuk wara wiri di beberapa kota untuk menggelar gigs. Terakhir adalah tour “Suara Tujuh Nada” di tiga kota bersama White Shoes & The Couples Company dan Dialog Dini Hari.

Ada dua lagu yang menjadi favorit saya dari duo ini, “Man Upon The Hill” dan “Rabbit Run”. Lagu pertama, karakter vokal yang unik dari Elda benar benar terlihat secara maksimal. Sementara di lagu yang kedua, iramanya sungguh riang, petikan gitar yang seolah jenaka dan mengajak kaki untuk bergoyang goyang di bawah meja sana

3. Katjie & Piering

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berkicau di linimasa twitter mengenai Katjie & Piering. Saat itu saya baru menyimak satu lagu mereka yang berjudul Kinanti, dapat tau dari soundcloud yang entah darimana sangkut pautnya linknya. Kemudian seorang kawan saya menimpali kicauan tersebut, begini kira kira bunyinya.

“Jika orang Sunda berbicara tentang kerinduan, maka Katjie & Piering punya cara sendiri untuk membicarankannya.” – @rlinggai

Katjie & Piering adalah proyek antara Sigit dan Ayayay Si Kelinci. Namanya diambil dari bahasa Belanda, katjiepiering, bunga kaca piring. Dua orang di belakang Katjie & Piering sendiri bukanlah orang baru, Sigit dengan main project-nya Tigapagi dan Ay dengan Baby Eats Crackers nya. \

Mereka berdua, berfokus untuk melakukan covering terhadap lagu lagu, terutama dari band band indie di skena lokal Bandung. Hingga saat ini, Katjie & Piering sudah merilis lima lagu (merupakan hadiah ulang tahun bagi Ay), yang dibagikan secara free dan bisa diunduh secara cuma cuma.

Musik folk yang akarnya adalah musik tradisional, menjadi definitif di tangan Katjie & Piering. Menyimak beberapa lagunya dan akan sangat, sangat, sangat terasa nuansa tanah Sunda. Vokal merdu Ay yang diiringi petikan steel guitar Sigit, berpadu dengan suara kecapi dan tiupan karinding, membawa saya kembali ke tanah pasundan, sambil menikmati beberapa potong ubi panas dan segelas bajigur hangat di tengah hawa dinginnya pegunungan.

Zakelijk, benar sekali kicauan kawan saya di atas itu ternyata.

4. Tristan

Bahwa pembagian gelar Liga Spanyol hanya diperuntukan bagi Real Madrid dan Barcelona saja? Jangan membuat saya tertawa. Awal medio 2000, muncul satu kekuatan lain yang mengacaukan adu cepat dua kuda pacu bergelimang dolar ini, Deportivo La Couruna dengan gemilang menjadi pemuncak Liga Spanyol di musim 1999/2000, dan runner up di dua musim setelahnya. Salah satu komponen penting Super Depor adalah sang goal getter bernama Diego Tristan. Koleksi 21 gol bahkan menjadikan dirinya sebagai top skor pada musim 2001-2002.

Begitulah yang sebelumnya biasa teringat dalam pikiran saya ketika pertama membaca kata Tristan; sebelum kemudian semua itu berubah semenjak saya mulai berkenalan dengan Tristan yang lainnya. Tristan yang membawa saya pada kesenduan yang dalam, merenungi kesedihan yang tidak murahan dan kemudian bersyukur atas sebuah kegetiran. Silahkan sebut saya masochist, tapi begitulah yang saya rasa ketika mendengarkan lagu lagu mereka.

Tristan terdiri dari Andrie Ridwan sebagai penyanyi dan penulis lagu; Andrew Hutasoit sebagai komposer yang juga multi instrumentalist. Keduanya adalah sepasang kawan SMA yang sempat terpisah dan kemudian bertemu kembali. Bertemu, bergabung atas kesamaan visi bermusik dan lalu kemudian merilis EP pertama mereka yang bertajuk We Are Tristan, We Are Aeronauts, berisi lima lagu yang salah satunya merupakan favorit saya dari duo folk asal Jakarta ini, berjudul “Jelang Malam”.

Sekitar pertengahan tahun 2012 lalu, Tristan merilis full album pertama mereka, HOME, yang dirilis di bawah bendera demajors. Berisi sebelas lagu, yang beberapa di antaranya telah ada di EP pertama mereka. Bolehlah dibeli dan disimak sebagai teman menikmati tengah malammu yang senyap dan mungkin penuh tanya itu.

5. Knee &Toes

Kota Malang yang sudah terstigma dengan skena musiknya yang cadas dan keras ternyata punya sisi lembut yang  begitu menyenangkan. Sisi lembut tersebut bisa saya sebut ada pada Knee & Toes, duo folk yang gemar memainkan lagu lagu riang dengan tempo yang sedang sedang saja namun tetap penuh semangat.

Duo yang terbentuk pada tahun 2010 ini terdiri dari Bie Paksi dan Ristri Putri. Keduanya sama sama bernyanyi juga memainkan instrumen musik; terdiri dari dua jenis gitar yakni gitar steel dan gitar nylon, dan beberapa instrumen lain seperti ukulele, piano, harmonika, glockenspiel, dan lain-lain.

Knee & Toes sudah merilis dua album, sebuah mini album berjudul A Journey dan full album bertitel Dammit I’m Mad (khas arek malang, boso walikan). Yang keren dan banyak terlewatkan banyak orang adalah kenyataan bahwa ternyata Knee & Toes pernah melakukan tur internasional, tepatnya ketika mereka menggelar tur ke 30 tempat di Inggris selama bulan Juni hingga September 2011 lalu.

Tampaknya berita go international @agnezmo yang entah itu memang lebih menarik bagi media.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=m-SRb917pKo]

6. Teman Sebangku

Ketika saya SD, ada anekdot menarik yang sering muncul menjelang ulangan, posisi menentukan prestasi. Bukan posisi juga sebenarnya, melainkan siapa teman yang duduk sebangku dengan kita. Semakin dekat dan lekat relasi dan kerjasama dengan teman sebangku, biasanya akan berkorelasi dengan keberhasilan dalam mengerjakan soal ulangan. Aduh kenapa malah buka kartu. Hahhaa

Teman Sebangku adalah duo folk yang berasal dari Bandung, terdiri dari  Doly Harahap di departemen gitar dan Sarita Lahmi Listya pada bagian vokal. Terbentuk sejak pertengahan 2010, Teman Sebangku sukses mengolah sebuah kesederhanaan menjadi hal yang indah dan menarik untuk dipersimakkan.

Lagu “Menari” misalnya, begitu mendengarnya saya kok terasa kembali menjadi anak umur sekolah dasar, bebas bermain dan tidak usah terlalu memusingkan banyak hal menyebalkan di luar sana. Apalagi dengan karakter vokal Sarita yang terdengar merdu laiknya anak kecil, semakin menambah seru perjalanan waktu ke masa beberapa belas tahun silam tersebut.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=DNfton1orwo]

7. Indie Art Wedding

Leonardo da Vinci sudah mati beratus ratus tahun yang lalu, namun hingga kini orang masih sibuk memperdebatkan tentang lukisan Monalisa yang misterius itu. Pun demikian misalnya dengan Nick Drake, hampir 40 tahun yang lalu dia menjemput ajal dan sekarang orang masih terus saja mengagumi keindahan lagu “Pink Moon” yang syahdu itu.

Dan Pak Pramudya pun pernah mengucapkan kalimat terkenalnya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

“Ya, karena hidup itu pendek, seni itu panjang,”

Demikian nama yang dipakai oleh Indie Art Wedding sebagai nama albumnya yang pertama dan mungkin juga akan jadi satu satunya untuk selamanya. Indie Art Wedding adalah duo yang terdiri dari Cholil Machmud  beserta sang istri Irma Hidayana.

Album Hidup Itu Pendek, Seni Itu Panjang sendiri bukanlah album yang ditujukan selayaknya album musik yang lainnya. Ini merupakan bingkisan pernikahan yang diberikan kepada para undangan yang hadir pada acara pernikahan Cholil dan Irma di pertengahan 2008 lalu. Album ini direkam hanya dalam dua shift saja, atau setara kurang lebih selama dua belas jam ini.

Lirik dalam album ini diciptakan berdua oleh Cholil dan Irma, sementara untuk instrumen musik dimainkan sendiri oleh Cholil. Dan selayaknya lirik ciptaan Cholil di ERK, ada kejenakaan tersendiri yang muncul dalam tiap lagu Indie Art Wedding. Sila temukan sendiri di bawah ini.

Jakarta, April 2013.