Secarik Undangan yang Datang Sore Itu dan Tertulis Atas Namamu

Paket kiriman itu datang pada sebuah sore hari yang seperti bermuram durja. Dari kursi tempatku duduk, aku bisa melihat di luar hujan turun begitu lebatnya. Sesekali suara gemeretak terdengar jelas ketika air hujan yang terbawa oleh angin beradu badan dengan kaca jendela kantorku. Hari ini sudah masuk sepertiga pertama bulan November, sewajarnya memang hujan mulai turun setiap harinya.

Aku sedang menatap monitor yang menampilkan deret angka-angka yang bergerak oleh proses kalkulasi ketika seorang petugas keamanan di lantai kubikelku berada datang menghampiri meja tempatku duduk. Kami biasa memanggilnya Pak Oyok. Hingga saat ini aku pun tak tahu dengan pasti siapa nama asli dari pria yang bila berbicara kental sekali logat Sunda-nya ini.

Satu hal yang bisa aku pastikan kepadamu, kena tonjok tangan Pak Oyok pasti akan menciptakan luka lebam yang bukan main rasa sakitnya. Lengan pria yang sehari-harinya bertugas jaga di depan lift ini terlihat seperti talas kering yang sudah siap dipotong dan digoreng di atas wajan, menggembung dengan gempalnya. Entah karena pengaruh seragam yang ia pakai atau memang kenyataannya seperti itu.

Meski begitu, di balik perawakannya yang sangar, pria ini sebetulnya ramah dan mudah sekali tertawa. Apalagi semenjak kami sering minum kopi bersama-sama di pantry, beberapa kali aku tergelak karena cerita-ceritanya yang kocak. Barangkali betul memang petuah ini, “setjangkir kopi”, kau tahu, “adalah koentji”.

Pak Oyok datang dan menyerahkan kiriman yang berbungkus plastik bening itu kepadaku sambil bertanya singkat, “Isinya undangan ya?”

Aku hanya tersenyum sambil memberitahukan padanya bahwa aku punya kopi hitam dari Jambi yang baru dibawakan salah seorang kawanku kemarin dulu. Ia bisa mencobanya kalau mau. Continue reading “Secarik Undangan yang Datang Sore Itu dan Tertulis Atas Namamu”

Menulis Puisi dan Secangkir Kopi dalam Kenangan

Semalam, entah ada angin apa, seorang perempuan tiba-tiba meminta saya menuliskan untuknya sebuah puisi. Saya gamang, dan terutama ragu bagaimana harus menanggapi permintaannya. Sebetulnya saya ingin mengiyakan permintaan tersebut. Namun di lain sisi saya sadar betul tak pernah gape menulis puisi. Pun dia tak bilang harus menuliskan puisi tentang apa.

Seumur-umur laman blog ini, beberapa kali saya pernah iseng untuk menulis puisi, beberapa diantaranya saya unggah dan bahkan masih bisa dibaca hingga sekarang. Tapi kamu tak usah repot membacanya, sih. Saya beritahu satu hal sebelum kamu menyesal membacanya, puisi yang saya tulis begitu menyedihkan. Bukan, bukan isi puisinya tentu saja. Tapi puisinya itu sendiri. Duhh, jeleknya minta ampun. Continue reading “Menulis Puisi dan Secangkir Kopi dalam Kenangan”

Secangkir Kopi Pagi Ini

Kalau boleh aku bercerita, hari ini adalah hari yang istimewa. Bukan karena ada hal penting terjadi, tapi justru karena ada sesuatu yang tiba tiba menghilang. Ada yang kurang pada rutinitas keseharianku. Apakah itu lembaran rupiah di dompet yang sudah tiga hari ini kosong tak berisi, folder folder berisi file yang terhapus oleh virus virus itu atau malah, berlembar lembar kertas bertuliskan hasil coretan tanganku semalam?

Dan sesaat kemudian aku tersadar dalam lamunanku.

Benar, di mana dia? Dimana secangkir kopi hitamku pagi ini?

Oiya, kalau boleh kalian kuberi tau, kaleng bekas biskuit tempat aku biasa mengambil satu sendok kopi itu sudah tak terisi lagi. Pun demikian dengan toples berisi gula pasir yang sudah longgar karena berulang kali dibuka tutup dengan asal asalan.

Tapi ya sudahlah, mungkin pagi ini belum jodohku menikmati rasa pahit di lidah karena kehadiran dirinya.

Kemudian tidak kurang selama setengah lingkaran jarum jam yang setia berotasi dalam rutinitas yang menjemukan itu, tanpa sadar aku membuang waktu luang berhargaku, menyapu tiap sudut ruangan sempit berukuran 3×4 tempatku biasa menghabiskan hari.

Tidak, aku tidak sedang berusaha merapikan kapal karam ini. Tapi memang benar tebakanmu, kamar ini sudah sangat kotor sekali. Biarlah tak usah kau hiraukan, lain kali saja aku bersihkan, toh aku masih bisa tidur dengan lelap.

Ehh tapi mungkin kau mau tau, tanpa ada sebab musababnya, aku malah mencari koin koin logam yang mungkin masih tersisa, yang tersembunyi di balik kardus kardus bekas berisikan sampah beraneka macam, yang terselip di antara lembaran buku yang bertumpuk tak beraturan, yang tertinggal di dalam tiap saku pakaian kotor dalam ember merah itu, yang terserak begitu saja di antara kasur dan selimut yang pagi ini masih bergumul dengan akrabnya atau malah, tertimbun di dalam debu pasir yang menggunung di pojokan sana.

Kemudian aku berseru gembira, masih tanpa alasan yang jelas. Begitu tersadar di tanganku terkumpul sudah empat keping koin. Satu pecahan lima ratus dan tiga pecahan dua ratus rupiah.

Ternyata badanku tak mampu melaluinya. Dia bergerak sendiri, mengambil alih otakku, tanpa ada kontrol lagi. Menukar pecahan pecahan koin yang aku temukan dengan sebungkus kecil serbuk berwarna hitam itu. Kemudian bergerak tanganku, masih tanpa kontrol. Memanaskan air, menyeduhnya ke dalam sebuah cangkir kecil. Baunya, ya benar baunya. Tidak salah lagi itu memang baunya, khas sekali, tak mungkin aku tak menyadarinya.

***

Seekor laba laba yang melintas tiba tiba membuatku terhenyak dari lamunan. Cangkir di depanku masih kosong, hanya ada sisa sisa bubuk kopi yang telah padat menjelaga.

Mengawali pagi tanpa dirinya, ternyata begitu menyiksa.

Bandung, Desember 2011.