Bogor, Es Krim Durian dan Titik Singgah di Akhir Perjalanan

Bayangkan ini, kamu berada di tempat yang sama ketika tiba-tiba suara-suara yang pernah bergaung di masa-masa lampau, terdengar lekat sekali. Lantas kamu akan sadar, bahwa ingatan adalah sesuatu yang kekal, dan barangkali lupa adalah perkara yang hanya sementara.

Hari ini, dari pagi hingga siang tadi saya berada di Kota Bogor. Tak ada keperluan atau tujuan khusus tertentu sebetulnya, hanya sekedar ingin berjalan-jalan dan melihat-lihat sekitar saja.

Dari tempat tinggal saya, Bintaro, saya memulai perjalanan dengan naik komuter. Transit sebentar di Stasiun Tanah Abang, lantas berganti komuter lain yang tujuan akhir Stasiun Bogor. Tak kurang sekitar dua jam kemudian, sampailah saya di kota yang seringkali dikenal sebagai kota hujan ini.

Kalau tak salah ingat, dalam tiga tahun terakhir, ini adalah kali keenam saya pergi ke Kota Bogor. Lumayan jarang memang. Beberapa di antaranya malahan hanya sekedar singgah saja. Dan kali ini pun, hal-hal yang saya ingat tentang kota ini masih sama seperti sebelumnya; hawanya yang sejuk, mobil angkot yang seperti ada dimana-mana, dan ya, buah durian. Yang terakhir itu tidak nyambung memang.

Dari stasiun saya berjalan kaki ke arah Kebun Raya. Sesampainya di sana, di depan loket tampak antrian pengunjung yang akan membeli tiket. Namun karena bukan tujuan perjalanan kali ini, saya pun berlalu begitu saja, Melangkahkan kaki ke arah yang entah mana.

Di sebuah jembatan saya berhenti, berdiri menyandar pada sebaris pagar, memandang ke arah sungai yang mengalir ricik di bawah sana. Senyampang kemudian, sebuah gerobak es krim durian lewat di depan saya berdiri. Pelan saja pemiliknya mengayuh gerobak tersebut. Barangkali dia lelah. Atau memang menyengaja agar banyak orang bisa lebih lama menyadari kehadirannya.

Perihal-perihal inilah yang lantas secara tiba tiba dan tak diduga menarik ingatan akan kejadian, rangkaian dan urut-urutan peristiwa yang saya alami beberapa tahun silam. Continue reading “Bogor, Es Krim Durian dan Titik Singgah di Akhir Perjalanan”

Icip Icip Durian Lampung

“Bagai mendapatkan durian runtuh.”

Sebuah pepatah lama yang pasti semua orang Indonesia saya yakin pernah mendengarnya, kira kira berarti mendapatkan keberuntungan yang besar sekali. Bagi saya, pemilihan buah durian dalam peribahasa ini tepat adanya, sungguh suatu kenikmatan yang tiada tara ketika lidah kita bersentuhan dengan kelembutan daging durian yang manis rasanya.

c07db-5

Meminjam kata-katanya¬†Pak Bondan Winarno, “Pokok e maknyus!” Continue reading “Icip Icip Durian Lampung”

Melintas di Pesisir Krui

Tempo hari ada seorang kawan saya yang bercakap bahwa di Lampung pantainya tidak kalah dengan di Pulau Bali. Awalnya saya sempat skeptis mendengar hal ini, namun usai mengunjungi daerah Krui, saya sadar bahwa pendapat itu sahih adanya.

Pesisir yang berpasir putih dan melengkung dengan indah bak Pantai Kuta atau pantai dengan ombak yang tinggi dan memanjang seperti Pantai Padang-Padang ada di ibukota kecamatan Pesisir Tengah ini.

Maka kesempatan untuk bermalam sambil menikmati secangkir kopi hitam ditemani syahdunya deburan ombak jelas pengalaman yang tidak akan mudah saya lupakan.

*** Continue reading “Melintas di Pesisir Krui”

Melihat Gajah Berlatih di Way Kambas

Salah satu program andalan yang sering didengung-dengungkan Pemerintah Orde Baru adalah kebijakan transmigrasi. Saya masih ingat betul, bagaimana guru sekolah dasar saya dulu berusaha keras menggiring opini kami para muridnya untuk ikut bersepakat terhadap kemaslahatan program pemerintah ini.

Transmigrasi sendiri merupakan suatu program yang dibuat oleh pemerintah untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah yang padat penduduk (kota) ke daerah lain (desa) di dalam wilayah Indonesia. Umumnya berasal dari Pulau Jawa dengan lokasi tujuan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Maka tidak perlu diheran jika di beberapa daerah yang menjadi destinasi perjalanan saya, seringkali bertemu dengan penduduk yang berasal dari Pulau Jawa. Begitu juga dengan di daerah Way Kambas ini.

“Wahh, kok dimana mana ketemunya orang Jawa,” batin saya kala itu.

*** Continue reading “Melihat Gajah Berlatih di Way Kambas”