Kandas di Kapal Rafelia II

Barangkali, ketika musibah sudah di depan mata dan seperti tak bisa terhindarkan lagi, seketika itu manusia lantas berubah 180 derajat dari perilaku kesehariannya. Atau setidaknya, begitulah yang kebetulan saya saksikan lewat mata kepala sendiri sore itu.

Sesaat setelah sirine bahaya dibunyikan, dari pengeras suara yang ada di beberapa sudut kapal, terdengar instruksi agar semua penumpang berkumpul di dek utama.

Luap emosi pun pecah.

5a24f-rafelia

4a9e3-dsc08252

55ca6-dsc08253

Penumpang yang tadinya terlihat sabar sekarang jadi blingsatan. Yang seharian tadi cuek jadi penuh perhatian. Ada pula yang sebelumnya ramah, mendadak kok jadi pemarah. Seorang laki-laki bertopi hitam–sebetulnya kami sudah berkenalan tapi saya lupa namanya–yang tadinya banyak sekali berbicara, mulutnya lantas seperti terkunci dan hanya terbuka untuk beberapa kata saja, hanya seperlunya.

Dramatis. Persis seperti penggambaran para sineas di film-film produksi Hollywood itu. Continue reading “Kandas di Kapal Rafelia II”

Mendaki Gunung Lewati Lembah, Bukan Entah

Mendaki gunung lewati lembah.

Sungai mengalir indah ke samudera.

Bersama teman bertualang.

***

Sudah lewat pukul sebelas malam, sebetulnya saya masih belum bisa beranjak ke tempat tidur dulu. Masih ada perlengkapan yang harus dimasukkan ke dalam kerier, pula diatur sedemikian rupa agar muat pas dan nyaman ketika menempel di atas punggung.

Ohh iya, saya hampir lupa dengan daftar logistik dan perlengkapan yang harus saya tulis dan rapikan lagi. Untung teringat, sekalian memeriksa ulang, kalau-kalau ada yang terluput.

Tapi mata saya sudah mengantuk. Dan obatnya yang paling manjur adalah tidur.

Besok pagi-pagi sekali saya akan berangkat mendaki gunung. Sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan sebetulnya, setidaknya hingga kemarin siang. Karena satu dan lain hal, dari Bali saya batal pergi ke Sumba dan justru menyeberang ke Lombok.

Tapi tak apa, dari awal berangkat saya sudah bersiap untuk menerima ketidakpastian yang mungkin terjadi dalam perjananan kali ini. Barangkali yang kemarin adalah satu di antaranya.

Lagipula, hidup memang dipenuhi hal-hal yang tidak pasti, bukan? Di situ lah sisi menariknya.

f6f31-p1020456

Mataram, Juni 2014.

PS : Tiga kalimat paling atas adalah lirik lagu Ninja Hattori. Tiba-tiba terlintas begitu saja di kepala. Lagunya riang sekali. Dan saya ngantuk sekali, packing pun tertunda esok pagi. Dasar pemalas.

Menapaki Puncak Tertinggi Pulau Lombok

Hamparan awan yang menggulung tampak jelas di kejauhan. Angin masih kencang berhembus, tetap menyiksa tubuh kami yang sudah terbalut beberapa lembar pakaian. Kelelahan di tubuh kami rasanya sudah memuncak, namun puncak Rinjani sudah terlihat sangat jelas di depan mata. Tidak sedikitpun terlintas di pikiran kami untuk menyerah.

515c5-100_8117

Jam di layar handphone sudah menunjukkan pukul 05.00. Venus, sang bintang fajar, masih lamat lamat terlihat di langit sebelah timur. Langit mulai tampak merekah. Cahaya kemerahan yang muncul seperti titik api perlahan mulai mewarnai gelapnya langit. Meskipun begitu, masih terlalu dini bagi kami untuk mematikan headlamp yang kami pakai. Langkah kecil kaki kami masih membutuhkan pemandu dalam meniti curamnya bibir kaldera.

Begitu sampai di sebuah dataran yang cukup landai, kami memutuskan untuk sejenak beristirahat. Nafas kami memburu, berusaha untuk menghirup sebanyak-banyaknya oksigen. Suhu udara yang dingin dan rasa lelah yang luar biasa memaksa tubuh kami membakar kalori yang dimilikinya semaksimal mungkin. Continue reading “Menapaki Puncak Tertinggi Pulau Lombok”

Mengunjungi Gili Trawangan dan Gili Meno

Begitu menyelesaikan urusan pembayaran carter mobil pada sopir angkot, kami bergegas meninggalkan keramaian pinggir jalan tersebut. Cuaca yang panas dan asap kendaraan yang berkompilasi semakin menambah pengap hawa udara siang itu. Rasa lelah yang masih tersisa dari pendakian gunung Rinjani beberapa hari sebelumnya ditambah dengan perut yang keroncongan, cukuplah sudah membuat suasana hati kami mencapai titik nadhirnya.

18d9f-memandangbiru

“Nyari makan dulu aja yuk !” tiba tiba ada yang berucap seperti itu. “Ke warung depan aja tu kayaknya jual makan,” sambung salah seorang teman kami yang lain mendengar ajakan tersebut. Tanpa dikomando, kami segera menuju sebuah warung kaki tiga tempat seorang ibu sedang berjualan.

Siang itu kami bersembilan, Aku, Diana, Engkong, Kresna, Sondang, Bedul, Bagus, Lanang dan Adi, sedang berada di Pelabuhan Bangsal, sebuah pelabuhan kecil di Kabupaten Lombok Utara yang difungsikan sebagai pelabuhan penyeberangan menuju kawasan Gili Trawangan. Suasana ketika itu cukup ramai, cidomo dan angkot bergantian hilir mudik menurunkan penumpangnya. Tampak pula beberapa wisatawan asing yang sedang bercakap-cakap. Agaknya mereka sedang menunggu kapal penyeberangan menuju Gili Trawangan.

Setelah memesan makanan, kami melakukan pembagian tugas, mengisi air jerigen, membeli snack, merapikan packing dan membeli tiket. Rencananya siang itu juga kami akan menyeberang. Gili Air adalah tujuan pertama kami.

bee5a-loketpembeliantiketpenyeberangan

“Public Boat ke Gili Air udah nyeberang tadi pagi. Kalau mau nyarter ada, tapi mahal,” kata Diana dengan suara seraknya kepada kami. Diana lah yang tadi kebagian tugas untuk membeli tiket.

“Trus gimana?” aku berkata pada mereka.

“Yaudah kita menyeberang aja dulu ke Gili Trawangan, besok siang kita baru ke Gili Air,” kata Engkong coba memberi solusi. Karena memang tidak ada solusi lain akhirnya kami sepakat dengan ide tersebut.

Tidak berapa lama kemudian public boat yang kami tunggu pun tiba. Harga tiket untuk kapal kategori public boat tersebut adalah sepuluh ribu rupiah untuk satu orang, lumayan murah untuk kawasan wisata yang sudah terkenal sampai seantero mancanegara. Begitu kapal penuh oleh penumpang, pengemudi segera menyalakan mesin kapal. Perjalanan kami pun dimulai.

Angin berhembus cukup kuat, gulungan awan hitam nampak menggulung di langit, goyangan ombak pun begitu terasa, menemani perjalanan kami menuju Gili Trawangan. Dari jauh mulai nampak sebuah pulau dengan beberapa tower yang menjulang tinggi.

“Itu Gili Trawangan ya Di?”tanyaku pada Diana yang dulu pernah berkunjung ke sana. “Itu dua pulau Nuk. Ntar kalo uda deket baru keliatan kalau pulaunya misah. Yang kanan Gili Trawangan trus yang kiri gue lupa, Gili Meno kayanya,” begitu penjelasan Diana padaku.

Perjalanan dari Pelabuhan Bangsal menuju Gili Trawangan menghabisakan waktu sekitar 45 menit.

Begitu kami menginjakkan kaki di pantai, rintik hujan perlahan mulai turun, seperti menyambut kedatangan kami di sana. Sambil melepas pandangan mencari tempat untuk berteduh, segera kami meninggalkan bibir pantai yang mulai bergejolak oleh tetesan air hujan. Di sepanjang jalan utama di Gili Trawangan, tampak berjejer sejumlah bangunan penginapan. Ada juga beberapa penyedia layanan paket snorkeling dan diving. Tarif snorkeling trip berkisar antara 70-75ribu, sedangkan untuk diving sekitar 350-500ribu rupiah, Gili Trawangan memang sangat terkenal dengan wisata bawah lautnya.

Berjalan di Gili Trawangan serasa tidak sedang berjalan di wilayah negara Indonesia. Hampir sebagian besar pengunjungnya adalah wisatawan asing, kebanyakan kulit putih. Petugas front office penginapan yang kami temui sepanjang jalan pun menggunakan bahasa Inggris untuk menawarkan layanan kamarnya kepada pengunjung, termasuk juga kepada kami yang secara tampilan jelas jelas masyarakat asli Indonesia.

Dari informasi yang kami peroleh saat itu, harga kamar yang disewakan berkisar antara 300-500ribuan. Harga yang relatif murah sebenarnya. Namun karena persedian uang di kantong kami memang sedikit, kami tetap pada rencana awal untuk mendirikan camp saja. Sekalian menikmati suasana pasir pantai di malam hari.

Setelah sekitar satu jam berjalan dari pelabuhan, hampir berbarengan dengan redanya hujan, akhirnya kami menemukan spot yang lumayan untuk mendirikan camp. Di sisi barat pulau yang cukup rimbun oleh pepohonan. Tidak butuh waktu lama, camp pun telah berdiri. Kami menghabiskan waktu dengan bersantai santai memandangi laut sambil menunggu datangnya sunset di sisa sore itu.

2fda8-menikmatisunsetdigilitrawangan

Malamnya kami berencana untuk melihat suasana malam di Gili Trawangan. Menurut informasi yang kami peroleh dari salah satu warga Lombok yang kami temui ketika pendakian Gunung Rinjani, suasana malam hari di Gili Trawangan adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Hampir setiap hari selalu ada party yang diadakan di sana. Namun karena aku tidak begitu suka dengan keramaian, akhirnya malam itu aku memilih untuk tinggal di camp saja. Menikmati sinar bulan ditemani hangatnya api unggun di pinggir pantai.

Begitu matahari mulai bersinar dengan terang, mulai nampak keindahan Gili Trawangan yang kemarin sore tertutupi oleh mendung dan derasnya hujan. Permukaan laut benar benar terlihat sangat spektakuler. Warna biru air laut berpadu sempurna dengan putihnya pasir pantai. Deburan ombak pun tidak begitu besar. Semakin menpertebal keinginanku untuk segera memasang peralatan snorkeling yang telah kami bawa, berenang di pantai tersebut.

Setelah perut terisi oleh nasi bungkus enam ribu lima ratus rupiah yang dijual oleh pedagang keliling bersepeda, kami membongkar camp dan segera menuju pusat keramaian di Gili Trawangan, pantai di dekat pelabuhan. Rencananya kami akan menghabiskan waktu hari itu di tempat tersebut.

Di sepanjang jalan, hilir mudik sepeda dan cidomo yang dikendarai oleh wisatawan asing. Di Gili Trawangan memang hanya ada dua alat transportasi tersebut. Cidomo adalah kepanjangan dari cikar dokar motor, yaitu alat transportasi yang sejenis dengan delman.

Begitu menemukan spot yang menarik, kami segera meletakkan daypack dan carier yang kami bawa. Peralatan snorkeling segera terpasang di badanku. Aku sudah tidak sabar untuk segera bermain dengan air dan ombak Gili Trawangan.

c5a61-berjalan

Lewat tengah hari, setelah puas berenang, kami bergegas menuju loket penjualan tiket penyeberangan. Sore itu kami akan berpindah pulau menuju Gili Meno. Sambil menunggu datangnya public boat, kami menghabiskan waktu dengan mengambil beberapa foto keramaian pelabuhan Gili Trawangan.

Perjalanan laut menuju Gili Meno menghabiskan waktu sekitar 20-25 menit. Masih sama dengan hari kemarin, ombak hari ini pun terasa cukup kuat.Yang pertama terlintas di pikiranku ketika kami sampai di Gili Meno adalah begitu sepinya pulau ini. Hanya ada satu-dua orang yang berlalu lalang di sekitar pelabuhan. Hal ini tentunya berbeda jauh dengan Gili Trawangan yang selalu hingar bingar seharian penuh.

Kami hampir tidak berapapasan dengan satu orang pun ketika berjalan menuju sisi barat pulau, tempat kami akan mendirikan camp hari itu. Tidak tampak adanya cidomo ataupun turis asing yang sedang bersepeda.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan sore itu. Selain karena tenaga yang telah terkuras, bermalas malasan sepertinya menjadi satu pilihan aktivitas yang menyenangkan. Aku sendiri sempat menyusuri sisi timur pulau ini, sekalian mencari sekedar informasi tentang Gili Meno dari penduduk setempat.

7e69b-peabuhanmenodipagihari

Pagi itu kami disambut dengan keindahan sunrise. Begitu membuka mata, tampak garis garis merah yang muncul membelah birunya langit. Terlihat pula Gunung Rinjani di kejauhan. Semakin menambah keindahan pemandangan pagi itu. Setelah sarapan dan membereskan camp, kami menuju pelabuhan Gili Meno. Karena satu dan lain hal, kami memutuskan untuk kembali ke Mataram hari itu, terpaksa melewatkan Gili Air.

Sebelum waktu dzuhur, kami telah sampai di Kota Mataram. Masih ada rasa kurang puas yang muncul dalam hati, karena masih banyak yang belum sempat dilakukan selama di sana. Selain karena masalah waktu, masalah dana rupanya memang menjadi kendala utama. Sehingga timbul suatu pemikiran yang saat itu sangat berkecamuk: “Suatu saat aku harus ke sana lagi, bermalam di cottage, makan malam di lestoran, dan tentunya menyelami dunia bawah laut di sana.”

Lombok, Juli 2011.