Yang Mungkin Tak Pernah Didengar, dan Mungkin Tak Perlu Didengar Juga

Tadi pagi saya kebetulan sarapan di warung masakan Padang dekat kostan. Selain karena jaraknya yang hanya sepelemparan batu, harganya pun cukup bersaing. Untuk setiap lauk, seperti ayam bakar, ikan laut atau rendang dihargai sepuluh ribu rupiah saja, sudah termasuk setangkup nasi putih tentunya.

Saya perhatikan, hampir tiap kesempatan sarapan ke sini, Si Uda pemilik warung gemar sekali menonton acara musik pagi televisi. Tak perlulah saya sebut merk, kurasa kita sudah tau sama tau apa saja nama  nama acara tersebut. Jari tangan Si Uda ini lihai dan sigap sekali bergerak di atas remote, gegas memindahkan channel ketika waktu iklan tiba, ke channel lain yang punya acara serupa. Iya, serupa.

Dan karena sudah berbulan bulan menyingkirkan televisi dari kamar saya, dalam kesempatan kesempatan kecil seperti inilah saya mengetahui perkembangan musik populer di Indonesia, atau lebih enak sebut saja musik produk industri. Sesuatu yang akhirnya menjadi candu, disuguhkan dalam repetitif yang tiada habisnya, menyusup hingga alam bawah sadar paling dalam, mengendap sedemikian rupa, hingga akhirnya kita terbiasa dan menerimanya sebagai suatu kewajaran, tanpa ada celah lagi untuk mempertanyakan. Tapi sudahlah, barangkali ini pilihan yang tak banyak dari kita bisa menolaknya.

Namun apa yang saya lihat dan dengar pagi ini sungguhlah membuat saya mengelus dada. Belum habis gempuran boyband dan girlband yang bersaing ketat dengan artis pengusung irama mendayu melayu, kali ini giliran biduan “dangdut koplo” yang hilir mudik di sana.

Hei, jam tayangnya itu, lho. Ini kan masih pagi, hari minggu pula. Banyak anak kecil yang nonton tivi. Apa ya ndak gila kalau mereka disuguhi tayangan seperti itu, nyanyi nyanyi sambil goyang A, B, C dan segala macam nama goyang lainnya, pun ditimpali koor massal “buka sithik joss!“.

Duhh, Pak Cawapres, piye je karepmu ki.

***

Kalau anda termasuk yang berpendapat bahwa musik Indonesia sekarang kualitasnya jauh menurun dari beberapa tahun silam, barangkali saya sependapat, walau tak sepenuhnya. Di luar pemahaman “beberapa tahun silam” anda dengan saya yang mungkin berbeda, mengacu pada generalisasi di atas, sebenarnya pun masih ada karya karya luar biasa yang dilahirkan musisi Indonesia belakangan ini.

Hingga bulan kesebelas tahun ini saja, sudah banyak rilisan luar biasa bagus yang dilepas ke khalayak. Bagi penggemar rock, The S.I.G.I.T dengan Detourn nya tentu merupakan sebuah capaian luar biasa. Atau Pandai Besi sebagai side project Efek Rumah Kaca yang merilis Daur Baur, album berisikan aransemen ulang lagu lagu ER-K di dua album terdahulu, direkam di Studio Lokananta, salah satu studio rekaman bersejarah di Indonesia.

Lalu ada juga Frau, solois yang album pertamanya, Starlit Carousel, banyak dianggap sebagai rilisan terbaik tahun 2010, bulan Agustus lalu melepas album terbarunya, Happy Coda. Tak ketinggalan, akhir September, trio folk asal Bandung, Tigapagi, merilis debut album yang sesungguhnya bisa dibilang terlambat mengingat unit ini sudah terbentuk sejak 2006 silam, Roukmana’s Repertoire, sebuah medley berdurasi 1:05:03 yang memberikan pengalaman lain dalam menikmati sebuah album bagi para pendengarnya.

Duhh, saya hampir lupa menyebut Aurette And The Polska Seeking Carnival dengan album selftitled nya, rilisan yang menghebohkan dunia per-vinyl-an di skena lokal.

Di luar nama nama tersebut, saya yakin sebenarnya masih banyak rilisan bergizi tinggi lain yang mungkin saja tidak banyak terdeteksi, tak banyak terbincangkan pun terpublikasikan secara luas. Berikut saya uraikan lima buah diantaranya. Lima album (LP/EP) yang selama seminggu terakhir menjadi menu wajib yang saya putar tiap harinya di playlist saya.

Dan sesuai dengan judul postingan ini, beberapa nama di bawah mungkin tak pernah didengar, dan mungkin tak perlu didengarkan juga. Continue reading “Yang Mungkin Tak Pernah Didengar, dan Mungkin Tak Perlu Didengar Juga”

Selamat Menjadi Tua dan Semoga Tetap Ceria !!!

Kau tahu doa apa yang sekiranya sering diucapkan ketika momen perayaan ulang tahun tiba dan membuatku ingin tertawa sekencangnya? Aku rasa beberapa hari yang lalu pun pasti ada juga yang mengucapkannya padamu; doa agar kau semakin dewasa.

Dewasa? Hahaha… Aku tak tau seperti apa kau memaknai kata itu. Tapi bagiku, bersikap dewasa tak lebih dari keharusan untuk semakin pintar dalam berpura pura. Pada titik ini kurasa aku tak perlu menjabarkannya lebih lanjut, sudah barang tentu kau mengerti maksudku bukan?

Ya sudahlah, aku sedang tak ingin menguliahimu macam macam. Di bawah ini telah aku pilih delapan lagu yang sengaja kususun sebagai hadiah ulang tahunmu. Kenapa delapan? Karena delapan itu tersusun dari lingkaran bulat, dan lingkaran bulat itu mengingatkanku padamu (seperti semua orang yang lain juga sepertinya).

Satu lagi, jangan protes dengan pilihanku. Bukankah pemberi hadiah punya hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat perihal apa yang akan diberikannya bukan? Dan lagi, telah berulang kali kau menyuruhku agar sekali kali bisa bersikap egois, anggap saja ini latihannya.

Jadi, mari kita mulai.

545ce-sigurros

Aku tahu kau tak pernah bisa merasa menjadi bagian dari kota ini. Mungkin pula benar kota ini bersikap tak ramah untukmu, membuatmu terasing dalam keriuhan. Maka, seperti yang diungkapkan Ben Gibbard, vokalis Death Cab For Cutie, dalam “You Are The Tourist”, aku rasa inilah waktu yang tepat untukmu beranjak pergi dari sini.

“When there’s doubt within your mind, because you’re thinking all the time. Framming right into wrongs. Move along, move along.”

Ohh iya, aku baru ingat, sebentar lagi kan kau memang akan pergi dari kota ini. Tapi ya sudahlah, biarkan saja Death Cab For Cutie tetap ada di mixtape. Anggap saja sebagai pengingat jika kau merasakan hal yang sama dengan tempat pindahmu kelak.

Pilihan kedua dalam mixtape yang kususun ini jatuh pada salah satu lagu Banda Neira yang berjudul “Di Beranda”. Lagu yang syahdu sekali menurutku, percakapan sepasang orang tua yang berusaha ikhlas dalam melepas kepergian anak kesayangannya.

“Dan jika suatu saat, buah hatiku, buah hatimu, untuk sementara waktu pergi, usahlah kau pertanyakan kemana kakinya kan melangkah.”

Tak perlu dipungkiri, memang berat rasanya melepas sementara waktu orang yang kita sayangi. Tapi kalau kepergian orang tersebut adalah hal yang memang harus dia lalui demi kebaikan, adakah hak kita untuk menghalanginya? Lagipula kau harus tahu, sama seperti yang orang tuamu rasakan terhadapmu, “Kita berdua tahu, dia pasti, pulang ke rumah.”

Lagu selanjutnya berasal dari salah satu band folk kesukaanku, Knee and Toes. Sejujurnya aku tak memiliki sedikitpun bayangan kemana lagi kau akan pergi setelah ini, ke negeri sakura kah, daratan berdebu di Amerika, atau malah kembali bertemu dengan musim dingin Eropa Utara sana?

Kemanapun itu, kurasa lagu berjudul “A Journey” ini pas sebagai pengantar kepergianmu yang tak akan lama lagi itu.

“Find the way, find the treasure. Listen to your heart and follow your dream,” terdengar familiar rasanya, mirip kata kata sang alchemist dalam buku karangan Paulo Coelho kesukaanmu.

Aku sudah lupa berapa kali kau bercerita padaku, hampir bosan sebenarnya, bahwa kau ingin sekali pergi ke tempatmu tinggal beberapa tahun yang lalu, ke tempat yang begitu dingin kurasa, negeri yang tak jauh dari Kutub Utara sana. Tapi barangkali rasa cinta mu itu memang bisa mengalahkan apa saja, salju pun mungkin bisa meleleh dibuatnya. Dan “Northern Sky” yang dinyanyikan Mister And Missisippi ini mungkin pas dengan apa yang kau rasakan saat ini bukan?

Barangkali kenyataan dalam hidup tak selalu ber-ending seperti cerita FTV, dimana setiap tokoh akhirnya tersenyum bahagia dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Kau tau, kadang percintaan bisa kandas di tengah jalan, seperti juga mimpi indah yang akhirnya berakhir dalam tong sampah.

“Oh someday sometime, youll stuck in loneliness and disappointment, and you cried loud. Oh someday sometime, things turn bad and you will be upset and crying loud,” begitu kata Aurette and The Polska Seeking Seeking Carnival pada lagu berjudul “Someday Sometime” yang termuat dalam album perdana mereka. Toh memang ada beberapa hal yang terjadi di luar kuasa kita.

Kukira wajar jika suatu saat kelak kau tiba tiba merasa sendirian, merasa terpisah dengan orang orang lain yang bertingkah seperti orang aneh dan tak wajar di matamu.

“Why’s everybody actin funny? Why’s everybody look so strange?” seperti ratap penuh emosi Dean Wareham dari kolektif Galaxy 500 dalam lagunya yang berjudul “Strange”.

Ada kalanya kau memang harus melawan, tapi mungkin juga ada waktu kau harus menerima kenyataan dan berdamai dengannya. Saat itu tiba, luangkan waktumu untuk melakukan hal hal kecil yang bisa membuatmu merasa lebih enakan, dan tunggulah sampai semua mereda.

“I stood in line and ate my twinkies. I stood in line, I had to wait.”

Ketika kau terjatuh, seorang teman mungkin bisa membantumu berdiri, tapi sebenar-benarnya yang bisa membuatmu berdiri tegak kembali adalah dirimu sendiri.

“Mungkin kini ku lelah, tak berarti mudah tuk terlelap. Saat semua berjalan lambat, saat banyak hal yang dikorbankan, saat tak ada yang bersuara. Tersenyumlah, tersenyumlah lebar, dan tunjuk ke atas.”

Aku tak perlu bercerita apa apa tentang lagu yang barusan saja kau baca liriknya, cukuplah kau dengarkan saja lagu berjudul “#1” dari The Morning After ini, dan tentukan sendiri bagaimana kau akan memaknainya.

Rasanya aku harus kembali pada bahasan pertama yang kupakai untuk membuka tulisan ini, tentang pertambahan usia. Benar bahwa semakin bertambah usia kita maka akan bertambah pula tanggung jawab kita, kenyataan yang tak akan pernah bisa kita hindari.

Tapi kurasa seharusnya hal tersebut tak boleh mengurangi keceriaan kita dalam menjalani kehidupan bukan? Dan dalam hal ini, tak pernah ada lagu lain yang cocok selain “Hoppippola/Med Bloodnasir” milik band post rock yang baru saja kutonton di Jakarta, Sigur Ros.

Coba kau lihat video clip nya, setelahnya aku yakin kau pun setuju bahwa menjadi tua tak boleh membuat kita menjadi terlalu serius dan akhirnya berubah membosankan.

Selamat bertambah tua! Tetaplah bersenang senang!! Hahaha…

Bintaro, Mei 2013.

ps: lagu lagu di atas diartikan seenaknya saja oleh saya, kalau salah silahkan artikan sendiri.

Early Years Playlist

The Trees and The Wild pada “Saija” memaklumatkan satu kenyataan yang teramat nyata, bahwa yang tak diam kepada kita hanyalah waktu. Sama seperti tahun ini, sulit untuk menyadari bahwa kita sudah meninggalkan lembar penanggalan yang kedua, beberapa hari lagi bahkan la luna akan berpurnama untuk kali ketiga.

Pada tahun ini pula saya akhirnya mulai ikut meramaikan ruwetnya ibu kota. Menjadi kaum urban, mengadu nasib di kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. Meninggalkan ritme kehidupan yang sungguh selo beberapa bulan sebelumnya, membaur pada rutinitas keseharian masyarakat metropolitan.

Satu hal mengenai rutinitas, bahwa mau tidak mau kita harus menghadapi hal yang sama dalam rentang waktu yang seolah tanpa batas itu, dari hal menyenangkan dan terutama yang mengesalkan. Maka salah satu hal yang terkadang membuat saya malas dalam memulai hari adalah membayangkan bahwa selama beberapa belas jam ke depan akan terpenjara dalam rekursif yang itu itu saja.

Oh iya, akhir akhir ini saya punya beberapa lagu yang menjadi heavy rotation dalam playlist saya tiap harinya, terutama ketika berada di ruangan kantor. Kata seorang kawan, hidup tanpa musik yang terngiang di kepala itu seperti film tanpa soundtrack, sepi kali ya rasanya.

1. Efek Rumah Kaca – Menjadi Indonesia

Beberapa saat setelah kau terbangun dari mimpimu, diantara kesadaran yang sewajarnya belum penuh terkumpulkan, coba paksakan dirimu untuk sejenak mendengarkan lagu ini, maka aku yakin kau akan lekas melepas selimut yang masih menghangatkan badanmu dan kemudian segera beranjak dari tempatmu tidur malam tadi.

Dimulai intro yang begitu catchy, dengan bebunyian drum yang mantap, disambung petikan lembut gitar yang mengalun dengan jernih, mengalirlah suara Cholil Machmud yang menerawang.

Terlepas dari musiknya yang “getir”, Menjadi Indonesia menurut saya adalah salah satu lagu paling keren yang dimiliki oleh trio indie pop asal Jakarta ini. Menjadi Indonesia mampu mengajak kita untuk memaknai (makna) nasionalisme dalam kontekstual yang berbeda, bukan sebagai jargon kosong yang pada tahun tahun belakangan sering diejawantahkan secara serampangan dalam bentuk “Ganyang Malaysia, dll”.

Lagu ini menohok ketidakacuhan yang mungkin kita miliki, bahwa masih banyak sekali hal yang harus dilakukan di luar sana. Pas sekali didengarkan sebelum memulai aktivitas.

2. Libertines – Don’t Look Back Into The Sun

Meski sering diperbandingkan (dipersamakan), Libertines memiliki nasib yang berbeda jauh dengan The Strokes, dua band yang sering dianggap sebagai revivalist musik rock di awal medio 2000an. Ketika The Strokes terus bertahan dan mengalami perkembangan yang signifikan (baca mengerikan, saya sampai sekarang masih merasa tidak nyaman dengan rilisan single album terbaru mereka), Libertines akhirnya bubar di tengah jalan, bisa dibilang ketika berada di masa keemasannya.

Dari umurnya yang tak lama tersebut, “Don’t Look Back Into The Sun” adalah lagu yang paling saya suka. Sebenarnya sudah lumayan lama saya tidak mendengarkan Libertines, tapi secara kebetulan saya menemukan video di youtube ketika mereka reunian di Reading dan menyanyikan lagu ini. Dan versi live ini lah yang banyak saya dengarkan.

Selalu menyenangkan mendengar kedua sahabat yang membidani lahirnya (juga bubarnya) Libertines, Pete Doherty dan Carl Barat saling menimpali suara, bersahut sahutan sepanjang lagu. Tak banyak yang lebih indah dari perkawanan dua orang sahabat bukan?

Aduh kenapa malah jadi terdengar nggilani. Hahhaa.

3. MGMT – Time To Pretend

Ada satu adegan di serial Skins yang selalu saya stop dan saya ulang berkali kali ketika menontonnya. Pada ending season kedua yang sekaligus menjadi akhir dari Skins generasi pertama, ketika Sid berangkat ke New York untuk mencari Cassie, backsound yang dipilih oleh Bryan Elsey sungguh sempurna, “Time To Pretend”.

“Time to Pretend” pertama kali dirilis pada tahun 2008, masuk pada EP pertama MGMT, Time To Pretend EP. Lagu ini mendapat banyak review yang bagus dari para kritikus, pun diterima dengan mudah oleh masyarakat luas. Oleh majalah Rolling Stone, lagu ini dimasukkan dalam jajaran Rolling Stone’s 500 Greatest Songs of All Time, tercantum pada urutan 493.

Ini adalah lagu yang secara telak menyindir gaya hidup kaum metropolitan. MGMT secara cerdas dan bernas mampu bercerita dalam lagu yang berdurasi sekitar empat menit ini. Bahwa hidup bukan saja perihal mencari ketenaran, mengumpulkan banyak uang dan menghabiskannya untuk bersenang senang. Pada akhirnya ada banyak hal yang jauh lebih esensial dari itu semua.

Work hard, play hard? Yang benar saja, Bung.

4. The Clash – London Calling

Intro lagu ini terdengar sangat mengerikan, cabikan bass dan dentuman drum yang seolah siap menyambut peperangan, tepat di garis paling depan. Cocok sebagai original sountrack sebuah kerusuhan besar, seperti dalam salah satu adegan Billy Elliot misalnya. Liriknya pun garang, sadis dan mematikan. Bayangkan saja, siapa penggemar Beatles yang tidak akan tertohok mendengar bait kalimat ini.

“London calling, now don’t look to us. Phoney Beatlemania has bitten the dust.”

Lagu ini masuk dalam album London Calling yang dirilis sekitar tahun 1979-1980. Sebagai sebuah band punk yang lekat dengan tradisi anti kemapanan, album ini terhitung cukup laku, kabarnya omzet penjualan mencapai dua juta kopi.

Entah kenapa, setiap mendengarkan lagu ini ada semacam semangat (kemarahan) yang meluap luap yang saya rasakan. Terpengaruh liriknya yang provokatif mungkin.

5. The Trees and The Wild – Verdure

Ketika mayoritas masyarakat Indonesia sedang dan masih saja terus berharap bahwa pada akhirnya nanti Agnes Monica akan sukses menuju panggung internasional, sayup sayup dan jauh dari pemberitaan, The Trees and The Wild jauh hari telah berhasil melakukannya. Berkali kali mereka diundang sebagai penampil di festival festival musik luar negeri sana. Debut album mereka, Rasuk, bahkan membuat majalah TIME menobatkan mereka sebagai Five New Band to Watch.

“Verdure” adalah lagu pembuka dalam album Rasuk.  Intronya keren, liukan solo gitar dan backsound megah di belakangnya, yang kemudian langsung bertransisi dengan dramatis, turun ketika masuk ke sesi vokal.

“Hush now, the morning’s is too dark
High as a kite, as blue as your eyes
I’m putting out reasons, and see how far it’ll go
Go waste your time, with those heart.”

“Verdure” adalah lagu yang paling tidak saya inginkan ada di playlist ini sebenarnya. Bukan karena saya tidak suka, tapi mendengarkan lagu ini terasa begitu menyiksa, liriknya nggerus banget. Atau mungkin benar manusia memang aneh, bisa menikmati rasa sakit sebagai candu yang menyenangkan. Hahaha.

Jakarta, Maret 2013.

Musik Ala Beirut (Part 2)

Tulisan di bawah ini berisi beberapa lagu favorit saya dari Beirut, yang merupakan lanjutan dari tulisan berjudul sama yang telah diposting beberapa hari sebelumnya. Ada baiknya anda membaca tulisan tersebut terlebih dahulu. Dan seperti biasa, jika tulisan di bawah ini terlihat sangat overrated, sepenuhnya merupakan penilaian objektif saya sendiri. Terimakasih.

1. Beirut – Postcard From Italy

Salah satu lagu Beirut yang paling Beirut. Errr, maksud saya lagu ini adalah representasi sempurna dari apa yang disebut sebagai musik Beirut pada awalnya dulu. Perkawinan lintas genre yang secara sempurna termaktub dalam lagu ini, dari balkan folk hingga nuansa mariachi yang sangat kental Meksiko nya. “Postcard From Italy” yang masuk dalam daftar lagu album Gulag Orkestrar adalah salah satu track awal yang ikut menaikan popularitas Beirut hingga akhirnya dikenal banyak orang seperti saat ini.

Satu kelebihan lain dari Beirut adalah perihal liriknya yang puitis, menimbulkan kesan mendalam. Salah satu contohnya adalah pada Postcard  From Italy ini. Saya tak akan mencoba mengintrepretasikannya di sini. Terlampau indah hingga tak perlu lagi coba ditafsirkan macam macam, cukup dibaca dan kita akan tahu betapa romantisnya Zach dalam menulis lagu.

Dan pastinya ini adalah lagu yang ingin kau mainkan di hari pernikahanmu kelak.

And I will love to see that day
That day is mine
When she will marry me outside with the willow trees
And play the songs we made
They made me so
And I would love to see that day.

Her day was mine.

2. Beirut – Santa Fe

Salah satu track favorit saya yang diambil dari album terakhir Beirut, The Rip Tide. Mengenai pemberian judulnya, ini adalah hal yang jamak ditemui pada setiap album Beirut. Zach Condon, frontman sekaligus penulis lirik Beirut, sepertinya memang gemar memberikan nama suatu tempat sebagai judul lagu yang ia buat, “City names tend to have a certain power.”

Santa Fe sendiri adalah kota dimana Zach berasal. Kota terbesar keempat yang sekaligus merupakan ibukota negara bagian New Mexico, US. Lokasinya yang berada di dekat perbatasan dengan Meksiko menyebabkan terjadinya akulturasi budaya hispanic di sini. Hal yang bisa menjelaskan adanya influence musik Meksiko, terutama mariachi, pada banyak lagu lagu Beirut.

Santa Fe adalah lagu mengenai pertalian Zach terhadap kota tempatnya beranjak dewasa. Setelah menghabiskan sebagian masa mudanya untuk bertualang di penjuru Eropa, kemudian konser dari satu kota ke kota yang lainnya, pada akhirnya Zach merasakan kerinduan yang teramat besar terhadap semua yang telah beberapa lama ia tinggalkan. Maka kemudian kerinduan tersebut ia tumpahkan dalam lirik yang begitu jujur dalam lagu ini. Dibalut dengan musik riang yang tidak biasa, Santa Fe sungguh menyenangkan untuk diputar dan didengarkan berkali kali.

Lagu ini terdengar begitu sentimentil di telinga saya, mengingatkan saya bahwa sejauh dan selama apapun saya bepergian, pada akhirnya selalu ada tempat bernama rumah dimana saya harus kembali pulang.

Your days in one
This day undone
(The kind that breaks under)
All day at once
(for me, for you)
I’m just too young
(And what of my heart)
This day was once
(Silence before)
All grace of lost
Can’t wait at all
(Can’t wait at all)
Temptation won.”

And what ever comes through the door
I’ll see it face to face
All by your place.

“Sign me up Santa Fe
And call your son
Sign me up Santa Fe
On the cross Santa Fe
And all I want
Sign me up Santa Fe
And call your son.

3.9.06 Noah and Beirut

3. Beirut – Rhineland(Heartland)

Ini adalah satu lagu dengan empat kalimat yang nendang tepat ke ulu hati. Saya membacanya seperti seseorang yang sudah tak lagi merasa nyaman dengan kondisi kehidupannya, bahwa ada hal tidak benar yang  sedang terjadi. Sayang tak ada keberanian darinya untuk menghadapi kenyataan tersebut.

Dia tahu harus pergi, namun tidak berani. Hanya kegamangan. Ahh sial.

Life, life is all right on the Rhine
No, but I know, but I know
I would have nowhere to go
No, but there’s nowhere to go, to go

4. Beirut – Nantes

Pernahkah kau merakan kerinduan yang teramat besar pada seseorang? Seseorang yang karena satu dan lain hal tidak bisa lagi kau temui? Seseorang yang keberadaanya sangat berarti bagimu? Maka saya yakin lagu ini akan menggambarkan perasaan itu dengan sempurna.

Nantes adalah satu dari sekian lagu yang paling awal saya dengar, yang akhirnya membuat saya benar benar jatuh hati pada Beirut. Komposisi dari akordeon, piano, drum, violin dan horns yang sangat catchy, bahkan untuk telinga yang awam terhadap musik “tidak populer” sekalipun. Zach mampu meramu berbagai bebunyian tersebut dengan momen yang pas, saling bergantian dalam mengisi partitur nadanya. Lagu ini masuk pada album The Flying Club Cup yang dirilis pada bulan Oktober 2007.

Yang unik dari lagu ini adalah dimasukkanya percakapan (baca pertengkaran) sepasang pria dan wanita berbahasa Prancis yang muncul di tengah lagu. Hal yang tidak original memang karena sebelumnya sudah banyak lagu lain yang memasukkan pula percakapan dalam sebuah komposisinya, namun tetap saja dialog ini mampu meniupkan kesan tersendiri ketika didengarkan, pun mempertebal suasana Prancis sebagai latar pada lagu ini.

Dialog singkat tersebut diambil dari film Prancis produksi tahun 1938 yang berjudul “La bete humaine“. Film yang merupakan karya sutradara legendaris asal Prancis Jean Renoir ini adalah sebuah film klasik bergenre drama psikologis yang oleh beberapa pihak seringkali dianggap “cult“.

Nantes bagi saya adalah mengenai perasaan bersalah yang teramat dalam kepada seseorang. Yang saking dalamnya hingga bahkan kau pun tak sanggup untuk bertemu lagi dengan orang tersebut dan lebih memilih untuk memendam dalam saja kerinduanmu itu. Tragis betul.

Well it’s been a long time, long time now
Since I’ve seen you smile.
And I’ll gamble away my fright.
And I’ll gamble away my time.
And in a year, a year or so
This will slip into the sea.

Well it’s been a long time, long time now
Since I’ve seen you smile.

5. Beirut – Goshen

Barangkali perpisahan adalah suatu keharusan, jika dirasa itu memang yang terbaik. Dan Goshen adalah tentang perpisahan tersebut, perpisahan yang pahit tepatnya. Tentang dua orang yang tak lagi saling percaya. Tentang kejujuran yang tak lagi bisa terucapkan.

Berbeda dengan lagu lagu Beirut yang lain, Goshen sederhana jika dilihat dari jumlah instrumen yang ikut bermain. Didominasi oleh piano dan vokal berat nan getir dari Zach yang kemudian di sepertiga akhir lagu ikut diramaikan oleh bunyi drum dan terompet. Sederhana, namun tetap mengena.

Dan sungguh saya tidak berbohong, lagu ini benar benar menyayat hati. Sungguh.

But you never found it home
A Fair price I’d pay to be alone
What would you hide from such a glory ?
If I had only told you so.

Jakarta, Januari 2013.