Sebagai Pengingat

P1020419_

Yang mengecewakan adalah beberapa bulan selepas kursus narasi di Pantau, saya malah tak menyelesaikan satu pun tulisan. Ada sih keinginan menulis ini-itu, atau corat-coret paragraf pembukaan yang sudah bejibun, tapi toh tak ada satu pun yang mewujud menjadi sebuah tulisan yang rampung. Ndak perlu pikir panjang pun saya sudah menemukan alasannya. Malas. Tak ada disiplin. Juga komitmen. Walaupun buat saya menulis bukan suatu kewajiban yang musti dilakukan, tetap saja ini suram. Karena saya suka menulis. Karena menulis itu menyenangkan (meskipun ini bukan perkara yang gampang tentu saja). Oh, dan satu hal lagi, yang terpenting malah, rasanya menulis menjadikan saya tetap waras. Setidak-tidaknya selama beberapa tahun belakangan ini. Oleh sebab itulah maka, huh, tempo hari saya mencoba memaksa diri untuk menulis lagi. Kebetulan, memang ada yang sedang ingin dituliskan sih: cerita perjalanan ke India Utara. Lah eh, kok ternyata itu pun mentok, rasanya kehabisan suara; kata-kata. Bunyinya itu-itu saja. Monoton. Membosankan. Ya. Sebabnya jelas. Selain menulis, rupanya saya juga sedang kurang membaca. Kau tahu, Bung dan Nona, hampir mustahil kau bisa menulis bagus jikalau kau tak banyak membaca. Begitulah. Buku terakhir yang saya baca, yang mana itu sudah sebulan yang lalu, adalah Mati Bahagia-nya Albert Camus. Saya tamatkan sewaktu terkapar di ranjang hostel karena kena AMS. Suram. Hehehe. Lalu apa pasal saya malah menuliskan ini? Tak ada alasan khusus sebetulnya, sekedar ikhtiar pengingat diri saja, supaya bisa menulis dan membaca lagi, serta tidak banyak buang-buang waktu untuk “hal-hal kecil” yang rasanya kurang penting. Perihal terakhir inilah yang coba dijelaskan oleh penulis idola kita semua, Eka Kurniawan, di posting termutakhir blog-nya: “10.000 Jam Latihan (dan Mungkin Ketololan)”. Saya merasa tercubit setelah membaca tulisan tersebut. Ehh bukan, tertoyor sih lebih tepatnya. Di kepala. Dari belakang. Oleh tangan tak terlihat. Atau ya seperti itulah kira-kiranya. Ada juga sih rencana buat mencetak tulisan ini di beberapa lembar kertas dan memasangnya di dinding kamar. Saya sedang senang memasang berbagai macam hal yang musti saya kerjakan di dinding kamar. Biar gampang dilihat dan bisa menghantui pikiran. Seperti mimpi buruk yang datang sesuka hati. Oh iya, foto di atas adalah Dengarlah Nyanyian Angin-nya Haruki Murakami. Diambil pada sebuah sore yang hangat di Danau Segara Anak, sekitar awal Juni 2014. Novela bagus. Entahlah buku itu sekarang ada di tangan siapa.

Norwegian Wood, dan Satu Sore di Senja Jakarta

Laju kereta mulai melambat, ditandai dengan decitan rem yang lamat lamat terdengar di telinga. Para penumpang mulai berdiri dari kursinya, bersiap untuk turun. Stasiun di depan adalah pemberhentian paling akhir dari kereta tersebut.

Di belakang kereta, senja menyeruak. Matahari tenggelam di langit sebelah timur, bulatan kecil yang menyelinap diantara arak arakan awan di langit. Di latarnya, ada warna yang bergradasi, perpaduan antara biru langit dan  berkas berkas lembayung senja. Sore di Jakarta terasa lebih indah ketika itu.

Di stasiun, begitu kereta datang, kerumunan pecah. Para penumpang berebut masuk, para penumpang berebut turun, beradu tepat di depan pintu kereta. Para petugas sudah tak bisa berbuat apa apa, kukira mereka sudah kewalahan untuk mengingatkan. Ataukah memang sudah bosan?

Seorang lelaki, kemejanya berkelebat karena tak dikancingkan, berjalan cepat menyelinap diantara keramaian. Sambil berjalan, sesekali ia mengambil ponsel-pintarnya dari kantung celana. Mukanya terlihat semakin tegang selepas itu. Continue reading “Norwegian Wood, dan Satu Sore di Senja Jakarta”