Mendengarkan Musik di Kereta

Ia berdiri di dekat pintu. Tangan kirinya berpegangan pada gelang plastik berwarna kuning yang menggantung dari atap kereta. Satu tangan yang lain, ia menggunakannya untuk memegang sebuah buku; jempol dan jemari telunjuknya diregangkan guna menyangga halaman buku yang terbuka seperti sayap kupu-kupu tersebut.

Jika kau ada di dekatnya, kau bisa melihat ia membaca dengan kecepatan yang tinggi, matanya bergerak cekat sekali. Seperti melompat-lompat dari satu kata langsung ke beberapa kata di depannya.

Kau tentu paham bagaimana ramainya kereta pagi-pagi di Jakarta. Apalagi pada hari Senin seperti ini. Orang-orang yang berjejalan di dalam gerbong, dengan tatapan mata kosong seperti tak punya semangat hidup, mirip dengan para Yahudi yang hendak dibawa ke Auschwitz oleh Pemerintah NAZI. Continue reading “Mendengarkan Musik di Kereta”

Tiga Setengah Inci

Suatu hari, muncul keriuhan di linimasa Twitter yang menarik perhatian saya. Pemicunya adalah perilisan album (single/maxi-single?) dari sebuah band independen lokal asal Bandung.

Keriuhan muncul bukan karena band atau musik yang dibawakan, tetapi lebih kepada format rilisan yang dipakai. Bayangkan saja, format yang dipakai bukanlah CD, kaset atau vinyl (piringan hitam), melainkan 3½” floppy-disk.

Ohh, tidak pernah dengar apa itu 3½” floppy-disk? Disket, Bung, disket. Itu lho yang bentuknya tipis, hampir persegi dan terkadang punya warna-warna yang mencerahkan mata. Luar biasa cult memang.

 

swells-banal-foppy-disk

Swells, band yang dimaksud di atas, melepas rilisan bertitel Banal di bawah naungan label rekaman independen lokal yang belakangan punya beberapa rilisan maut, Wasted Rockers Recordings.

Continue reading “Tiga Setengah Inci”

Tenggelamnya Jeff Buckley

Dari yang pernah kudengar, tenggelam adalah salah satu cara kematian yang paling menyakitkan. Jika kau tenggelam, kematian tidak akan datang padamu dalam masa yang seketika itu juga. Selama beberapa waktu, sampai akhirnya malaikat maut datang menjemputmu, kau terlebih dahulu harus merasakan penderitaan yang begitu mengerikan.

Apalagi jika tenggelam yang kau alami bukanlah tenggelam yang sengaja kau persiapkan.

Bayangkan jika kau sedang berenang dengan asyik di pantai dan sebuah ombak besar tak kau duga menggulungmu ke perairan yang lebih dalam, sejumlah besar air akan membanjiri paru-parumu secara tiba-tiba. Secara refleks, tubuhmu yang tidak siap akan terbatuk-batuk karena hal itu. Udara yang sebelumnya tersimpan di dalam paru-parumu pun hilang sudah.

Kau dilanda kepanikan dan mekanisme alami dalam tubuhmu pun kemudian bekerja tanpa kau minta; sebisanya menghirup udara lain sebagai gantinya. Hidungmu menarik nafas dan mulutmu megap-megap seperti ketika kau sedang berlari mengejar bus kota; lantas air semakin membanjir masuk ke dalam tubuhmu, mengalir deras seperti bah di musim penghujan.

Begitu berulang-ulang kali sampai akhirnya lampu bioskop dimatikan dan tirai di depan panggung teater menutup episode kehidupanmu kali ini. Continue reading “Tenggelamnya Jeff Buckley”