Norwegian Wood, dan Satu Sore di Senja Jakarta

Laju kereta mulai melambat, ditandai dengan decitan rem yang lamat lamat terdengar di telinga. Para penumpang mulai berdiri dari kursinya, bersiap untuk turun. Stasiun di depan adalah pemberhentian paling akhir dari kereta tersebut.

Di belakang kereta, senja menyeruak. Matahari tenggelam di langit sebelah timur, bulatan kecil yang menyelinap diantara arak arakan awan di langit. Di latarnya, ada warna yang bergradasi, perpaduan antara biru langit danĀ  berkas berkas lembayung senja. Sore di Jakarta terasa lebih indah ketika itu.

Di stasiun, begitu kereta datang, kerumunan pecah. Para penumpang berebut masuk, para penumpang berebut turun, beradu tepat di depan pintu kereta. Para petugas sudah tak bisa berbuat apa apa, kukira mereka sudah kewalahan untuk mengingatkan. Ataukah memang sudah bosan?

Seorang lelaki, kemejanya berkelebat karena tak dikancingkan, berjalan cepat menyelinap diantara keramaian. Sambil berjalan, sesekali ia mengambil ponsel-pintarnya dari kantung celana. Mukanya terlihat semakin tegang selepas itu. Continue reading “Norwegian Wood, dan Satu Sore di Senja Jakarta”