Kandas di Kapal Rafelia II

Barangkali, ketika musibah sudah di depan mata dan seperti tak bisa terhindarkan lagi, seketika itu manusia lantas berubah 180 derajat dari perilaku kesehariannya. Atau setidaknya, begitulah yang kebetulan saya saksikan lewat mata kepala sendiri sore itu.

Sesaat setelah sirine bahaya dibunyikan, dari pengeras suara yang ada di beberapa sudut kapal, terdengar instruksi agar semua penumpang berkumpul di dek utama.

Luap emosi pun pecah.

5a24f-rafelia

4a9e3-dsc08252

55ca6-dsc08253

Penumpang yang tadinya terlihat sabar sekarang jadi blingsatan. Yang seharian tadi cuek jadi penuh perhatian. Ada pula yang sebelumnya ramah, mendadak kok jadi pemarah. Seorang laki-laki bertopi hitam–sebetulnya kami sudah berkenalan tapi saya lupa namanya–yang tadinya banyak sekali berbicara, mulutnya lantas seperti terkunci dan hanya terbuka untuk beberapa kata saja, hanya seperlunya.

Dramatis. Persis seperti penggambaran para sineas di film-film produksi Hollywood itu. Continue reading “Kandas di Kapal Rafelia II”