Nir

Kau bisa saja menyerah dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Amarah membelenggumu. Ia membuatmu tak sadar untuk terus membenci. Pada apa saja. Bahkan waktu kau tak mampu mengingatnya lagi.

Semuanya menjadi gelap. Langit-langit yang muram. Dinding kamar yang dipenuhi goresan. Barangkali kebahagiaan tak lebih dari angan-angan. Begitu juga harapan. Ia adalah ilusi yang berkepanjangan jika kau terlampau menginginkannya.

Tapi tenanglah; kematian, kau tahu Bung dan Nona, adalah perihal yang pasti. Kau tak perlu sedikit pun meragukannya.

Mari bicara tentang bahasa. Aksara yang telah tereduksi. Prasasti yang tinggal kenangan. Manusia berbakat untuk lupa. Ingatan adalah sesuatu yang rapuh. Terkadang palsu. Yang kau yakini mungkin saja tak pernah benar-benar terjadi. Meski kata-kata terus saja menyampaikannya.

Ini semua omong kosong. Bahkan tanpa kecuali. Alinea tanpa makna. Nada yang akhirnya menjadi senjata. Gaduh yang berakrab pada sunyi. Dan suara itu, suara-suara yang memanggil-manggil namamu dari alam mimpi, mencekikmu tanpa ada bekasnya.

Prasangka yang lantas teralienasi. Retorika yang kian tak bisa dipercaya. Kau bebas terus melawan, atau tak perlu menghiraukannya sama sekali.

Adalah imajinasimu, kupikir, sebagai anak kuncinya. Di depan mata yang nyalang dan petir yang datang menggelegar. Cahaya yang sekejap menyilaukan. Jendela yang hadir tanpa bingkai. Dan rumah-rumah yang terbakar api. Luka itu terus abadi selama kau menikmati rasa sakitnya.

Pecahan kaca yang kau pegang erat. Nadi yang sudah tercabik-cabik. Darah yang menetes makin deras, seperti aliran sungai, atau air terjun yang sering hadir di dalam kepalamu.

Penglihatanmu melamur dan, benda-benda di depanmu semakin kabur.

Yang kau butuhkan hanya diam. Lantas menutup mata. Biarkan senja yang terlambat kau datangi itu berganti gelap, seperti juga tali-temali di ujung dermaga, yang sebentar ditinggalkan.

Nir
Explosions In The Sky – The Only Moment We Were Alone.
Caspian – High Lonesome//Hickory ’54.
Mono – Where We Begin.
Lowercase Noises – Roaring Forties.
Under The Big Bright Yellow Sun – Shocked After Stress.

Fairy Tales End
Fairy Tales End

Jakarta, Januari 2015.
PS : Ilustrasi diambil dari sini. Kunjungi untuk terkagum-kagum di sana.

Yang Saya Dengar Tadi Pagi Ketika Memulai Hari

“Bangunlah pagi-pagi, biar nanti rejekimu tidak hilang dipatok ayam.” — Anonim.

Begitu satu dari sekian banyak nasehat yang sering sekali diujarkan kepada saya sewaktu kecil dulu, dan karenanya masih sangat terbawa hingga kini.

Barangkali nasehat barusan masih sangat relevan untuk sebagian orang. Mungkin juga tidak.

Kita tentu tidak bisa memaksakan orang yang–karena satu dan lain hal harus–bekerja pada tengah malam hingga dini hari untuk bersegera bangun di pagi hari juga, bukan?

Loh, memangnya ada pekerjaan semacam itu?

Continue reading “Yang Saya Dengar Tadi Pagi Ketika Memulai Hari”

Yang Mungkin Tak Pernah Didengar, dan Mungkin Tak Perlu Didengar Juga

Tadi pagi saya kebetulan sarapan di warung masakan Padang dekat kostan. Selain karena jaraknya yang hanya sepelemparan batu, harganya pun cukup bersaing. Untuk setiap lauk, seperti ayam bakar, ikan laut atau rendang dihargai sepuluh ribu rupiah saja, sudah termasuk setangkup nasi putih tentunya.

Saya perhatikan, hampir tiap kesempatan sarapan ke sini, Si Uda pemilik warung gemar sekali menonton acara musik pagi televisi. Tak perlulah saya sebut merk, kurasa kita sudah tau sama tau apa saja nama  nama acara tersebut. Jari tangan Si Uda ini lihai dan sigap sekali bergerak di atas remote, gegas memindahkan channel ketika waktu iklan tiba, ke channel lain yang punya acara serupa. Iya, serupa.

Dan karena sudah berbulan bulan menyingkirkan televisi dari kamar saya, dalam kesempatan kesempatan kecil seperti inilah saya mengetahui perkembangan musik populer di Indonesia, atau lebih enak sebut saja musik produk industri. Sesuatu yang akhirnya menjadi candu, disuguhkan dalam repetitif yang tiada habisnya, menyusup hingga alam bawah sadar paling dalam, mengendap sedemikian rupa, hingga akhirnya kita terbiasa dan menerimanya sebagai suatu kewajaran, tanpa ada celah lagi untuk mempertanyakan. Tapi sudahlah, barangkali ini pilihan yang tak banyak dari kita bisa menolaknya.

Namun apa yang saya lihat dan dengar pagi ini sungguhlah membuat saya mengelus dada. Belum habis gempuran boyband dan girlband yang bersaing ketat dengan artis pengusung irama mendayu melayu, kali ini giliran biduan “dangdut koplo” yang hilir mudik di sana.

Hei, jam tayangnya itu, lho. Ini kan masih pagi, hari minggu pula. Banyak anak kecil yang nonton tivi. Apa ya ndak gila kalau mereka disuguhi tayangan seperti itu, nyanyi nyanyi sambil goyang A, B, C dan segala macam nama goyang lainnya, pun ditimpali koor massal “buka sithik joss!“.

Duhh, Pak Cawapres, piye je karepmu ki.

***

Kalau anda termasuk yang berpendapat bahwa musik Indonesia sekarang kualitasnya jauh menurun dari beberapa tahun silam, barangkali saya sependapat, walau tak sepenuhnya. Di luar pemahaman “beberapa tahun silam” anda dengan saya yang mungkin berbeda, mengacu pada generalisasi di atas, sebenarnya pun masih ada karya karya luar biasa yang dilahirkan musisi Indonesia belakangan ini.

Hingga bulan kesebelas tahun ini saja, sudah banyak rilisan luar biasa bagus yang dilepas ke khalayak. Bagi penggemar rock, The S.I.G.I.T dengan Detourn nya tentu merupakan sebuah capaian luar biasa. Atau Pandai Besi sebagai side project Efek Rumah Kaca yang merilis Daur Baur, album berisikan aransemen ulang lagu lagu ER-K di dua album terdahulu, direkam di Studio Lokananta, salah satu studio rekaman bersejarah di Indonesia.

Lalu ada juga Frau, solois yang album pertamanya, Starlit Carousel, banyak dianggap sebagai rilisan terbaik tahun 2010, bulan Agustus lalu melepas album terbarunya, Happy Coda. Tak ketinggalan, akhir September, trio folk asal Bandung, Tigapagi, merilis debut album yang sesungguhnya bisa dibilang terlambat mengingat unit ini sudah terbentuk sejak 2006 silam, Roukmana’s Repertoire, sebuah medley berdurasi 1:05:03 yang memberikan pengalaman lain dalam menikmati sebuah album bagi para pendengarnya.

Duhh, saya hampir lupa menyebut Aurette And The Polska Seeking Carnival dengan album selftitled nya, rilisan yang menghebohkan dunia per-vinyl-an di skena lokal.

Di luar nama nama tersebut, saya yakin sebenarnya masih banyak rilisan bergizi tinggi lain yang mungkin saja tidak banyak terdeteksi, tak banyak terbincangkan pun terpublikasikan secara luas. Berikut saya uraikan lima buah diantaranya. Lima album (LP/EP) yang selama seminggu terakhir menjadi menu wajib yang saya putar tiap harinya di playlist saya.

Dan sesuai dengan judul postingan ini, beberapa nama di bawah mungkin tak pernah didengar, dan mungkin tak perlu didengarkan juga. Continue reading “Yang Mungkin Tak Pernah Didengar, dan Mungkin Tak Perlu Didengar Juga”

Selamat Menjadi Tua dan Semoga Tetap Ceria !!!

Kau tahu doa apa yang sekiranya sering diucapkan ketika momen perayaan ulang tahun tiba dan membuatku ingin tertawa sekencangnya? Aku rasa beberapa hari yang lalu pun pasti ada juga yang mengucapkannya padamu; doa agar kau semakin dewasa.

Dewasa? Hahaha… Aku tak tau seperti apa kau memaknai kata itu. Tapi bagiku, bersikap dewasa tak lebih dari keharusan untuk semakin pintar dalam berpura pura. Pada titik ini kurasa aku tak perlu menjabarkannya lebih lanjut, sudah barang tentu kau mengerti maksudku bukan?

Ya sudahlah, aku sedang tak ingin menguliahimu macam macam. Di bawah ini telah aku pilih delapan lagu yang sengaja kususun sebagai hadiah ulang tahunmu. Kenapa delapan? Karena delapan itu tersusun dari lingkaran bulat, dan lingkaran bulat itu mengingatkanku padamu (seperti semua orang yang lain juga sepertinya).

Satu lagi, jangan protes dengan pilihanku. Bukankah pemberi hadiah punya hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat perihal apa yang akan diberikannya bukan? Dan lagi, telah berulang kali kau menyuruhku agar sekali kali bisa bersikap egois, anggap saja ini latihannya.

Jadi, mari kita mulai.

545ce-sigurros

Aku tahu kau tak pernah bisa merasa menjadi bagian dari kota ini. Mungkin pula benar kota ini bersikap tak ramah untukmu, membuatmu terasing dalam keriuhan. Maka, seperti yang diungkapkan Ben Gibbard, vokalis Death Cab For Cutie, dalam “You Are The Tourist”, aku rasa inilah waktu yang tepat untukmu beranjak pergi dari sini.

“When there’s doubt within your mind, because you’re thinking all the time. Framming right into wrongs. Move along, move along.”

Ohh iya, aku baru ingat, sebentar lagi kan kau memang akan pergi dari kota ini. Tapi ya sudahlah, biarkan saja Death Cab For Cutie tetap ada di mixtape. Anggap saja sebagai pengingat jika kau merasakan hal yang sama dengan tempat pindahmu kelak.

Pilihan kedua dalam mixtape yang kususun ini jatuh pada salah satu lagu Banda Neira yang berjudul “Di Beranda”. Lagu yang syahdu sekali menurutku, percakapan sepasang orang tua yang berusaha ikhlas dalam melepas kepergian anak kesayangannya.

“Dan jika suatu saat, buah hatiku, buah hatimu, untuk sementara waktu pergi, usahlah kau pertanyakan kemana kakinya kan melangkah.”

Tak perlu dipungkiri, memang berat rasanya melepas sementara waktu orang yang kita sayangi. Tapi kalau kepergian orang tersebut adalah hal yang memang harus dia lalui demi kebaikan, adakah hak kita untuk menghalanginya? Lagipula kau harus tahu, sama seperti yang orang tuamu rasakan terhadapmu, “Kita berdua tahu, dia pasti, pulang ke rumah.”

Lagu selanjutnya berasal dari salah satu band folk kesukaanku, Knee and Toes. Sejujurnya aku tak memiliki sedikitpun bayangan kemana lagi kau akan pergi setelah ini, ke negeri sakura kah, daratan berdebu di Amerika, atau malah kembali bertemu dengan musim dingin Eropa Utara sana?

Kemanapun itu, kurasa lagu berjudul “A Journey” ini pas sebagai pengantar kepergianmu yang tak akan lama lagi itu.

“Find the way, find the treasure. Listen to your heart and follow your dream,” terdengar familiar rasanya, mirip kata kata sang alchemist dalam buku karangan Paulo Coelho kesukaanmu.

Aku sudah lupa berapa kali kau bercerita padaku, hampir bosan sebenarnya, bahwa kau ingin sekali pergi ke tempatmu tinggal beberapa tahun yang lalu, ke tempat yang begitu dingin kurasa, negeri yang tak jauh dari Kutub Utara sana. Tapi barangkali rasa cinta mu itu memang bisa mengalahkan apa saja, salju pun mungkin bisa meleleh dibuatnya. Dan “Northern Sky” yang dinyanyikan Mister And Missisippi ini mungkin pas dengan apa yang kau rasakan saat ini bukan?

Barangkali kenyataan dalam hidup tak selalu ber-ending seperti cerita FTV, dimana setiap tokoh akhirnya tersenyum bahagia dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Kau tau, kadang percintaan bisa kandas di tengah jalan, seperti juga mimpi indah yang akhirnya berakhir dalam tong sampah.

“Oh someday sometime, youll stuck in loneliness and disappointment, and you cried loud. Oh someday sometime, things turn bad and you will be upset and crying loud,” begitu kata Aurette and The Polska Seeking Seeking Carnival pada lagu berjudul “Someday Sometime” yang termuat dalam album perdana mereka. Toh memang ada beberapa hal yang terjadi di luar kuasa kita.

Kukira wajar jika suatu saat kelak kau tiba tiba merasa sendirian, merasa terpisah dengan orang orang lain yang bertingkah seperti orang aneh dan tak wajar di matamu.

“Why’s everybody actin funny? Why’s everybody look so strange?” seperti ratap penuh emosi Dean Wareham dari kolektif Galaxy 500 dalam lagunya yang berjudul “Strange”.

Ada kalanya kau memang harus melawan, tapi mungkin juga ada waktu kau harus menerima kenyataan dan berdamai dengannya. Saat itu tiba, luangkan waktumu untuk melakukan hal hal kecil yang bisa membuatmu merasa lebih enakan, dan tunggulah sampai semua mereda.

“I stood in line and ate my twinkies. I stood in line, I had to wait.”

Ketika kau terjatuh, seorang teman mungkin bisa membantumu berdiri, tapi sebenar-benarnya yang bisa membuatmu berdiri tegak kembali adalah dirimu sendiri.

“Mungkin kini ku lelah, tak berarti mudah tuk terlelap. Saat semua berjalan lambat, saat banyak hal yang dikorbankan, saat tak ada yang bersuara. Tersenyumlah, tersenyumlah lebar, dan tunjuk ke atas.”

Aku tak perlu bercerita apa apa tentang lagu yang barusan saja kau baca liriknya, cukuplah kau dengarkan saja lagu berjudul “#1” dari The Morning After ini, dan tentukan sendiri bagaimana kau akan memaknainya.

Rasanya aku harus kembali pada bahasan pertama yang kupakai untuk membuka tulisan ini, tentang pertambahan usia. Benar bahwa semakin bertambah usia kita maka akan bertambah pula tanggung jawab kita, kenyataan yang tak akan pernah bisa kita hindari.

Tapi kurasa seharusnya hal tersebut tak boleh mengurangi keceriaan kita dalam menjalani kehidupan bukan? Dan dalam hal ini, tak pernah ada lagu lain yang cocok selain “Hoppippola/Med Bloodnasir” milik band post rock yang baru saja kutonton di Jakarta, Sigur Ros.

Coba kau lihat video clip nya, setelahnya aku yakin kau pun setuju bahwa menjadi tua tak boleh membuat kita menjadi terlalu serius dan akhirnya berubah membosankan.

Selamat bertambah tua! Tetaplah bersenang senang!! Hahaha…

Bintaro, Mei 2013.

ps: lagu lagu di atas diartikan seenaknya saja oleh saya, kalau salah silahkan artikan sendiri.