Membaca Hujan Bulan Juni di Dalam Kereta

Seperti sedang berada di dunianya sendiri, khusyuk betul perempuan itu menekuri buku yang dipegangnya dengan kedua tangan itu. Penumpang yang sesekali berhilir mudik dan laju kereta komuter yang kadang berguncang-guncang seolah tak menjadi gangguan untuknya.

Processed with VSCOcam with t1 preset

Di dalam kepala saya setidaknya ada dua kemungkinan yang mungkin menjadi alasannya : pertama, ia memang kutu buku atau kedua, buku yang dibacanya sangatlah menarik. Kemungkinan kedua inilah yang kemudian membuat saya jadi kepikiran cukup lama. Continue reading “Membaca Hujan Bulan Juni di Dalam Kereta”

Membaca Puisi Berjudul “Misa Arwah”

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah puisi yang rasanya bagus sekali. Ada sensasi aneh yang menyeruak begitu mengikuti kata demi kata yang menyusunnya.

Seperti ada tengara yang datang dengan terbata. Seperti haru yang datang dengan ragu-ragu. Seperti penyesalan yang memang sengaja diterlambatkan. Seperti rasa yang dipendam dan tak hendak akan disampaikan.

Kau tahu, ini seperti… Ahh, sepertinya jendela kamar memang sudah waktunya harus dibuka.

***

Misa Arwah
oleh Dea Anugrah.

sebab kecemasan itu tak pernah selesai
kini kutempatkan diri
di antara wajah pucat rumah duka
dan kaca-kaca jendelanya
yang memantulkan kegetiran tak bernama

kulihat orang-orang menyanyi dan berdoa bersama
cahaya memancar dari telapak tangan mereka yang terbuka
tetapi langit telah menjadi sekeping logam,
terlalu keras dan menyilaukan
bagi segala yang berasal dari manusia

di sudut jauh, di bawah bayangan salib yang jenuh
seorang perempuan tua
menyeka sudut-sudut matanya yang basah
dan mensucikan kesedihan
sebagai miliknya sendiri

sebab kecemasan itu tak pernah selesai
begitu mudah sunyi menyelinap
lalu bekerja dalam diriku

sembari menunduk dalam-dalam
kuraba gelang pemberianmu. dan diam-diam
tubuhku gemetar, menahan sepenggal keharuan
yang mungkin tak akan pernah kita percakapkan.

***

Di sana, di belahan dunia yang lainnya, ia tahu, tapi lebih memilih untuk tidak tahu.

Jakarta, Februari 2015.

PS : Buku kumpulan puisi karya Dea Anugrah, Misa Arwah, sudah diterbitkan pada bulan Februari ini. Kataku, akan ada banyak sekali puisi bagus di sana. Tapi, semoga kau tak lantas percaya begitu saja. Kau bisa membaca sendiri dan membuktikannya.

Menulis Puisi dan Secangkir Kopi dalam Kenangan

Semalam, entah ada angin apa, seorang perempuan tiba-tiba meminta saya menuliskan untuknya sebuah puisi. Saya gamang, dan terutama ragu bagaimana harus menanggapi permintaannya. Sebetulnya saya ingin mengiyakan permintaan tersebut. Namun di lain sisi saya sadar betul tak pernah gape menulis puisi. Pun dia tak bilang harus menuliskan puisi tentang apa.

Seumur-umur laman blog ini, beberapa kali saya pernah iseng untuk menulis puisi, beberapa diantaranya saya unggah dan bahkan masih bisa dibaca hingga sekarang. Tapi kamu tak usah repot membacanya, sih. Saya beritahu satu hal sebelum kamu menyesal membacanya, puisi yang saya tulis begitu menyedihkan. Bukan, bukan isi puisinya tentu saja. Tapi puisinya itu sendiri. Duhh, jeleknya minta ampun. Continue reading “Menulis Puisi dan Secangkir Kopi dalam Kenangan”