Tiga Setengah Inci

Suatu hari, muncul keriuhan di linimasa Twitter yang menarik perhatian saya. Pemicunya adalah perilisan album (single/maxi-single?) dari sebuah band independen lokal asal Bandung.

Keriuhan muncul bukan karena band atau musik yang dibawakan, tetapi lebih kepada format rilisan yang dipakai. Bayangkan saja, format yang dipakai bukanlah CD, kaset atau vinyl (piringan hitam), melainkan 3½” floppy-disk.

Ohh, tidak pernah dengar apa itu 3½” floppy-disk? Disket, Bung, disket. Itu lho yang bentuknya tipis, hampir persegi dan terkadang punya warna-warna yang mencerahkan mata. Luar biasa cult memang.

 

swells-banal-foppy-disk

Swells, band yang dimaksud di atas, melepas rilisan bertitel Banal di bawah naungan label rekaman independen lokal yang belakangan punya beberapa rilisan maut, Wasted Rockers Recordings.

Continue reading “Tiga Setengah Inci”

Nostalgia di Toserba Rahayu, Toko Kaset di Pasar Prambanan

Sejujurnya saya agak lupa mana di antara dua album ini yang lebih awal saya beli; Sheila On 7 atau Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Kalau dari urutan rilis sih seharusnya Sheila On 7 yang lebih awal, tapi kok dulu rasanya saya baru bisa membeli kaset sendiri ketika album Kisah Klasik Untuk Masa Depan sudah dirilis.

Meski begitu, saya masih ingat betul dimana dulu membeli kedua album yang masing-masingnya terjual lebih dari satu juta kopi itu. Saya membeli keduanya di Toserba Rahayu.

IMG_20150219_202917

Continue reading “Nostalgia di Toserba Rahayu, Toko Kaset di Pasar Prambanan”

Yang Mungkin Tak Pernah Didengar, dan Mungkin Tak Perlu Didengar Juga

Tadi pagi saya kebetulan sarapan di warung masakan Padang dekat kostan. Selain karena jaraknya yang hanya sepelemparan batu, harganya pun cukup bersaing. Untuk setiap lauk, seperti ayam bakar, ikan laut atau rendang dihargai sepuluh ribu rupiah saja, sudah termasuk setangkup nasi putih tentunya.

Saya perhatikan, hampir tiap kesempatan sarapan ke sini, Si Uda pemilik warung gemar sekali menonton acara musik pagi televisi. Tak perlulah saya sebut merk, kurasa kita sudah tau sama tau apa saja nama  nama acara tersebut. Jari tangan Si Uda ini lihai dan sigap sekali bergerak di atas remote, gegas memindahkan channel ketika waktu iklan tiba, ke channel lain yang punya acara serupa. Iya, serupa.

Dan karena sudah berbulan bulan menyingkirkan televisi dari kamar saya, dalam kesempatan kesempatan kecil seperti inilah saya mengetahui perkembangan musik populer di Indonesia, atau lebih enak sebut saja musik produk industri. Sesuatu yang akhirnya menjadi candu, disuguhkan dalam repetitif yang tiada habisnya, menyusup hingga alam bawah sadar paling dalam, mengendap sedemikian rupa, hingga akhirnya kita terbiasa dan menerimanya sebagai suatu kewajaran, tanpa ada celah lagi untuk mempertanyakan. Tapi sudahlah, barangkali ini pilihan yang tak banyak dari kita bisa menolaknya.

Namun apa yang saya lihat dan dengar pagi ini sungguhlah membuat saya mengelus dada. Belum habis gempuran boyband dan girlband yang bersaing ketat dengan artis pengusung irama mendayu melayu, kali ini giliran biduan “dangdut koplo” yang hilir mudik di sana.

Hei, jam tayangnya itu, lho. Ini kan masih pagi, hari minggu pula. Banyak anak kecil yang nonton tivi. Apa ya ndak gila kalau mereka disuguhi tayangan seperti itu, nyanyi nyanyi sambil goyang A, B, C dan segala macam nama goyang lainnya, pun ditimpali koor massal “buka sithik joss!“.

Duhh, Pak Cawapres, piye je karepmu ki.

***

Kalau anda termasuk yang berpendapat bahwa musik Indonesia sekarang kualitasnya jauh menurun dari beberapa tahun silam, barangkali saya sependapat, walau tak sepenuhnya. Di luar pemahaman “beberapa tahun silam” anda dengan saya yang mungkin berbeda, mengacu pada generalisasi di atas, sebenarnya pun masih ada karya karya luar biasa yang dilahirkan musisi Indonesia belakangan ini.

Hingga bulan kesebelas tahun ini saja, sudah banyak rilisan luar biasa bagus yang dilepas ke khalayak. Bagi penggemar rock, The S.I.G.I.T dengan Detourn nya tentu merupakan sebuah capaian luar biasa. Atau Pandai Besi sebagai side project Efek Rumah Kaca yang merilis Daur Baur, album berisikan aransemen ulang lagu lagu ER-K di dua album terdahulu, direkam di Studio Lokananta, salah satu studio rekaman bersejarah di Indonesia.

Lalu ada juga Frau, solois yang album pertamanya, Starlit Carousel, banyak dianggap sebagai rilisan terbaik tahun 2010, bulan Agustus lalu melepas album terbarunya, Happy Coda. Tak ketinggalan, akhir September, trio folk asal Bandung, Tigapagi, merilis debut album yang sesungguhnya bisa dibilang terlambat mengingat unit ini sudah terbentuk sejak 2006 silam, Roukmana’s Repertoire, sebuah medley berdurasi 1:05:03 yang memberikan pengalaman lain dalam menikmati sebuah album bagi para pendengarnya.

Duhh, saya hampir lupa menyebut Aurette And The Polska Seeking Carnival dengan album selftitled nya, rilisan yang menghebohkan dunia per-vinyl-an di skena lokal.

Di luar nama nama tersebut, saya yakin sebenarnya masih banyak rilisan bergizi tinggi lain yang mungkin saja tidak banyak terdeteksi, tak banyak terbincangkan pun terpublikasikan secara luas. Berikut saya uraikan lima buah diantaranya. Lima album (LP/EP) yang selama seminggu terakhir menjadi menu wajib yang saya putar tiap harinya di playlist saya.

Dan sesuai dengan judul postingan ini, beberapa nama di bawah mungkin tak pernah didengar, dan mungkin tak perlu didengarkan juga. Continue reading “Yang Mungkin Tak Pernah Didengar, dan Mungkin Tak Perlu Didengar Juga”

Membeli Rilisan Fisik

Awalnya saya pikir hanya akan merasakan perasaan berdebar karena antusiasme pada sebuah benda dengan kadar yang berlebihan ini hanya pada satu hal saja, yaitu ketika membeli buku, dan membukanya kali pertama. Selalu menyenangkan memang menikmati momen yang terjadi dengan singkat tersebut, mengusap halaman yang pertama terbuka dan lalu menghirup aromanya yang tersibak ke segala arah (teman saya bilang itu tidak wajar, tapi sudahlah itu bahasan lain kali saja).

Sampai akhirnya pendapat saya itu terbantahkan sekitar empat bulan yang lalu. Pada sore berhias mendung di pinggir Selokan Mataram yang menjadi saksi, hari dimana saya membeli rilisan fisik dalam bentuk kepingan cakram padat untuk pertama kalinya setelah hampir sepuluh tahun lewat.

***

Sejak dulu saya memang bukan tipe orang yang suka membeli sesuatu. Saya hanya akan membeli sesuatu bila memang sudah membutuhkannya. Tak heran jika banyak barang yang masih tetap saya pergunakan kendatipun usianya sudah uzur. Namun ada satu perkecualian yang saya buat, yaitu untuk buku. Sudah ada dana yang saya sisihkan tiap bulan dan alokasinya tidak bisa diganggu gugat untuk membeli buku.

Pada tahun tahun terakhir kuliah, secara kebetulan saya mulai mengakrabi musik musik yang berada di luar arus populer di Indonesia. Dari yang keras seperti deathmetal, shoegaze yang muram hingga yang terdengar rumit macam mathrock. Tidak terbatas pada rilisan baru saja, terkadang saya juga menyimak musik musik yang dihasilkan bahkan jauh sebelum saya lahir.

Dan tanpa saya sadari, sepertinya saya telah terjerumus lebih dalam pada musik musik tersebut. Tidak hanya mendengarkan saja, saya kemudian juga tertarik untuk menguliknya lebih lanjut, dari lirik lagunya, instrumen instumentnya hingga yang paling seru, bertualang dalam riuhnya informasi di internet untuk menelisik siapa dan seperti apa orang orang yang berada di balik karya karya luar biasa ini.

Ada banyak hal menarik yang kemudian saya temukan dalam petualangan itu, yang jauh lebih menarik dari kisah Nassar KDI atau playboy cap tokek macam Andika Kangen Band yang kerap muncul di infotainment. Saya pun makin rajin mencermati musik musik yang dianggap non populer ini.

Sampai suatu hari saya membaca artikel mengenai kasus bocornya beberapa materi album kedua Themilo, Photograph, sebelum album itu dirilis secara resmi. Menyimak artikel tersebut, saya merasa begitu malu karena ternyata saya pun banyak menikmati karya para musisi (khususnya yang independen ini) tanpa hak. Ya, saya termasuk penikmat utama layanan download ilegal via jaringan internet.

Ada yang menarik sekaligus ironi di sini. Tak jarang saya dan anda pasti pernah menemukan orang yang berteriak marah marah ketika suatu karyanya dipakai orang lain tanpa seizin mereka. Segala sumpah serapah keluar, Arya Wiguna pun kalah sepertinya. Banyak orang yang begitu marah ketika merasa haknya diambil orang lain, tapi tanpa sadar merasa enak enak saja menikmati karya orang lain yang bukan haknya.

Dengan memandang musisi sebagai sebuah profesi, tentu sangat wajar jika kita pun menghargai karya mereka dengan cara yang benar pula. Coba bayangkan saja, bagaimana perasaan anda ketika bekerja dan anda tidak dibayar? Tidak adil bukan. Ya meski beberapa musisi mengaku bermusik bagi mereka hanya sekadar bersenang senang dan bukan sebagai sebuah pekerjaan, tetap saja ketika karya mereka dilepas sebagai sesuatu yang sifatnya komersil, ada harga yang harus kita bayar demi menikmati karya mereka. (Tidak terbatas untuk karya musik juga sebenarnya. Sila cermati dan tentukan sendiri apalagi yang menurut anda telah anda nikmati secara ilegal, dan yang terpenting adalah bagaimana anda akan menyikapi hal tersebut.)

Dari situlah kemudian muncul keinginan saya untuk mulai membeli album musik, terutama yang dirilis secara fisik. Alasannya sederhana saja, seperti yang saya tulis di atas, karena memang itulah yang harus kita lakukan untuk mendapatkan hak kepemilikan untuk mendengarkan lagu lagu di dalam album tersebut secara benar. (Kecuali jika album tersebut dirilis dengan lisensi bebas unduh oleh pembuatnya.)

Hingga hari itu pun tiba. Mengendarai motor membelah Jogjakarta, saya melintasi Jalan Solo yang sekarang mulai ramai menuju daerah Condongcatur. Tujuan saya sore itu adalah Pengerat Shop. Namun alamat yang tidak terlalu jelas plus saya yang memang jarang ke daerah Condongcatur membuat saya berputar putar cukup lama di daerah tersebut. Ada sekitar empat kali saya bertanya kepada warga yang saya temui sepanjang perjalanan.

Sesampainya di sana, begitu motor terparkir rapi, saya pun segera bergegas menaiki tangga memutar yang ada di depan toko yang juga merupakan studio musik itu. Pencahayaan di dalam suram, temaram saja. Di salah satu ruang kecil, saya kemudian menikmati beberapa saat yang menyenangkan, memegang satu per satu rilisan CD, membaca tiap kata demi kata yang tertera pada cover CD, mengagumi artwork nya (beberapa rilisan trash metal punya artwork cover yang keren sekali), berpindah dari satu rak hingga ke rak yang lain hingga akhirnya melabuhkan pilihan kepada tiga buah album milik Monkey to Millionaire, Answer Sheet dan Aurette and The Polska Seeking Carnival. 

Dan ternyata memang ada sensasi yang lain ketika kita memegang rilisan fisik album tersebut, sesuatu yang saya kira tak akan pernah kita bisa nikmati dari bentuk digital saja. Sudah hampir setengah jam saya coba menuliskannya, tapi ternyata gagal. Sensasi yang harus dirasakan sendiri, dan bukan untuk coba didefinisikan dengan kata kata saja. Oke ini berlebihan.

***

Saya akui, hingga sekarang pun masih ada ratusan file berisi lagu lagu yang saya dapatkan secara ilegal bersarang di hardisk ponsel dan laptop saya, pun masih sering saya dengarkan pula. Namun perlahan, sedikit demi sedikit jumlah itu makin berkurang dan nantinya kelak semoga bisa tergantikan semuanya dengan yang saya dapatkan secara legal. Saya tak tau kapan itu terwujud, sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama. Namun setidaknya saya sudah memulai langkah pertama, dan memang itulah yang terpenting bukan?

Bintaro, September 2013.