MBV

Saya, sama seperti kebanyakan pendengar My Bloody Valentine yang lain, sudah terbiasa menerima kenyataan bahwa Loveless adalah album terakhir dari kolektif asal Irlandia ini, dan tidak akan pernah ada lagi rilisan album mereka selanjutnya. Loveless–yang sering dianggap sebagai benchmarking album untuk shoegaze–adalah masterpiece berharga yang tidak akan pernah kita bisa temui kembali.

Hingga satu kejadian yang seperti mukjizat itu kemudian terjadi. Tanggal 2 Februari 2013, mbv resmi dirilis secara online kepada publik. Maka kemudian, hanya dalam hitungan menit yang tak lama berselang, situs http://www.mybloodyvalentine.org/ pun rubuh oleh tingginya akses dari seluruh dunia.

8c06c-mbv

Saya, mungkin sama seperti pendengar My Bloody Valentine yang lain, merasakan kesukacitaan luar biasa yang hampir mustahil untuk dijelaskan begitu mengetahui kabar ini. Pun ketika pertama kali mendengarkan salah satu lagunya, rerasa seperti ada kebahagiaan yang begitu saja merasuk ke dalam hati, dan menenggelamkan diri sedalam dalamnya di sana.

***

Dua puluh dua tahun yang seperti berlalu dalam dimensi waktu yang berbeda, mbv meniupkan atsmosfer yang hampir sama serupa dengan Loveless. Jalannya waktu seolah melambat tujuh atau delapan kali lipatnya, nyaris tak ada yang berubah dari album mereka terdahulu.

Maka kemudian segera, “She Found Now”, “Only Tommorow” dan “New You” berulang untuk terdengar kembali dalam pemutar musik saya.

Jakarta, Februari 2013.

Shoegazing With Themilo

Dalam banyak hal yang ada di dunia, keseimbangan menjadi sebuah keadaan yang berusaha dicapai oleh setiap manusia. Ketika kondisi keseimbangan yang sudah ada mengalami sebuah gangguan, maka akan dilakukan sebuah mekanisme diri untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi tersebut. Konsep ini berlaku pula pada kejiwaan manusia, ketika hati dan otak tidak mampu bekerja sama secara seimbang, maka kondisi kejiwaan yang labil (atau bahkan galau) adalah sebuah konsekuensi yang harus ditanggung.

Sejak kemunculannya sekitar akhir periode 1980an, shoegaze sering mendapat label sebagai musik yang bernuansa galau. Suara vokal yang mengambang tanpa emosi dan bebunyian aneh yang dimunculkan dari efek delay dan reverb menimbulkan kesan dalam yang gelap. Shoegaze seolah memainkan emosi pendengarnya sampai ke titik paling jauh yang bisa dirasakannya.

Hari minggu kemarin adalah pengalaman pertama saya menyaksikan sebuah pertunjukkan genre musik ini. Tidak tanggung tangung, saya berkesempatan untuk menonton satu band yang dianggap sebagai pelopor shoegaze di Indonesia, Themilo. Oiya, jangan beripikir saya sedang galau.

***

Gedung Sate tampak ramai sore itu. Ruas Jalan Diponegoro diblokir untuk pelaksanaan event LA Light Streetball. Tapi bukan itu acara tujuan saya. Tepat di halaman depan gedung yang menjadi landmark Kota Bandung ini sedang berlangsung sebuah acara bertajuk mOalbebeja, sebuah bazar event yang diadakan oleh myOyeah. Ada berbagai macam kios dengan aneka jualannya. Karena Themilo baru akan naik pentas pukul 20.00, saya pun berkeliling terlebih dahulu.

Langkah kaki saya terhenti di stand subterrestril. Seorang biduan wanita sedang berteriak teriak di belakang standup mic, scream yang diiringi cabikan liar pembetot bass dan gitar dibelakangnya, dengan dentuman penuh tenaga sang penggebuk drum. Sekumpulan penonton mulai saling bertubrukan, moshing. Saya mengambil jarak aman, tidak terlampau jauh untuk menikmati raungan musik namun tak terlampau dekat pula dengan kerumunan penonton yang menggila.

Beralih ke panggung utama, kru tampak berlalu lalang menyiapkan alat alat musik. Saya melihat jam, sudah pukul delapan lewat, sebentar lagi pertunjukan yang saya tunggu akan dimulai. Akhirnya lampu panggung mulai dinyalakan, dengan gitar yang tersampir Ajie Gergaji, vokalis Themilo sudah berdiri di depan mic.

Penonton pun merapat ke depan panggung, termasuk saya. “Light” dipilih menjadi lagu pembuka show malam itu. Langsung dilanjut dengan “Dream” dan “Romantic Purple”. Suasana gelap mulai menyeruak, terhembus pada udara yang mengalir di antara puluhan penonton yang mulai terhanyut pada distorsi nada yang mengalun dari pengeras suara. Magis.

“Malam ini mau ngegalau apa senang senang?” sapa Ajie kepada penonton.

“Galau.” jawab penonton sambil tertawa.

Lalu salah satu lagu andalan di album Photograph pun mulai terlantun, “Don’t Worry For Being Alone”.

c7473-_dsc0160

***

There’s something you could found
In the dark.
The beat that you can feel inside
And it won’t make you sad
You will know.
Don’t Worry For Being Alone.

***

Ahh saya ikut terhanyut. Sesuatu yang bergelora mulai mengaduk aduk perasaan, seiring dengan ambient yang sedang terdendangkan. Mungkin ini yang sering disebut oleh penggemar shoegaze sebagai “Eargasme”. Bukan hanya terhanyut, saya mulai terlarut.

Saya belum pernah menonton konser shoegaze sebelumnya, tapi dibandingkan dengan konser yang lain, para personel Themilo memang tidak terlalu banyak mengumbar emosi. Mukanya datar-datar saja. Mungkin lewat musiklah ekspresi emosi mereka disampaikan. Lalu dengan sedikit orasi mengenai penyesalan yang disampaikan oleh Ajie, “So Regret” menjadi lagu selanjutnya yang mereka mainkan. Betapa lagu ini semakin mengaduk aduk emosi saya. Liriknya yang dalam tentang penyesalan terasa begitu menohok.

Awalnya saya ingin banyak mengabadikan konser ini lewat kamera yang sudah saya bawa. Tapi karena baterai yang sudah tiris dan malas untuk beranjak dari posisi saya saat itu, foto-foto yang saya ambil hanya berasal dari satu angle saja.

Kemudian salah satu lagu favorit saya akhirnya mengalun. Saya mendengar lagu ini pertama kali di acara Radioshow, dan bermula dari lagu inilah saya mulai mendengarkan lagu lagu dari Themilo. Sepertinya saya wajib bersyukur malam itu menonton penampilan mereka.

382f0-4

***

Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam
Semua nyata hati pun terluka
Gerak ini telah terdiam hati telah tertoreh pisau yang keji
Semua nyata akankah kau percaya?

Inginan bisikan terdalam, celoteh gagak terdengar
Apakah kau kan percaya?
Semua telah usai tak terbayang, celoteh gagak terdengar
Daun dan Ranting menuju surga.

Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam
Semua nyata hati pun terluka.

***

Lagu yang dipilih sebagi penutup pentas malam itu adalah “For All The Dreams That Wings Could Fly”. Dengan baterai kamera yang sudah berkedip, saya mengabadikan penampilan terakhir Themilo itu pada video di bawah ini. Dalam hati saya masih berharap “Apart” akan dimainkan, mungkin ini pertanda bagi saya untuk menonton Themilo lagi di waktu waktu selanjutnya. Semoga.

***

a1758-_dsc0189

Dalam siklus kehidupan seorang manusia, ada kalanya kita akan mengalami tekanan yang begitu beratnya. Ada saatnya kita merasa jatuh dan terjerumus dalam lubang keputusasaan yang teramat dalam. Namun bukan berarti kita harus berakhir di titik tersebut. Bangkit dari keterpurukan dan lawanlah semua yang menghadang. Seperti kata Themilo, saatnya menghadapi hidup yang remuk dan menghapuskan semua kenangan yang kelam.

Bandung, Juni 2012