Setahun Lalu, 10 Mei 2013

Barangkali tanggal 10 Mei 2013 adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya, setidaknya hingga saat ini. Malam itu, selama hampir dua jam lamanya, rasa-rasanya hormon endorphine dalam tubuh berada pada kadarnya yang paling tinggi, dosis yang mungkin hanya bisa dicapai oleh suntikan berampul-ampul morphin. Sudah setahun berlalu dan betapa euphoria malam itu masih sangat membekas.

Ada beberapa hal yang saya tuliskan, beberapa jam lepas dari malam itu. Namun karena ini-itu dan lain lain dan sebagainya, seperti biasanya, tulisan tersebut tak pernah selesai. Dua hari terakhir ini saya mengubek-ubek hardisk, berusaha menemukan dan melanjutkan tulisan tersebut.

Sayang, gagal. Hanya ada mentahan yang benar benar mentah, tulisan setelahnya lenyap entah kemana. Menuliskan ulang juga tak mungkin. Semoga jika tahun depan ada keajaiban draft tersebut ketemu, saya akan mem-posting-nya lagi. Sementara ini, cukuplah mentahan di bawah ini. Ha ha ha..

***

Saya tak peduli dengan kenyataan bahwa penyelenggara konser ini telah mematok harga yang lumayan tinggi dan terasa mencekik. Saya tidak peduli lagi bahwa kemudian nanti saya harus banyak berhemat guna menutupi pengeluaran yang saya keluarkan untuk ini. Sungguh pun saya tak peduli. Continue reading “Setahun Lalu, 10 Mei 2013”

Selamat Menjadi Tua dan Semoga Tetap Ceria !!!

Kau tahu doa apa yang sekiranya sering diucapkan ketika momen perayaan ulang tahun tiba dan membuatku ingin tertawa sekencangnya? Aku rasa beberapa hari yang lalu pun pasti ada juga yang mengucapkannya padamu; doa agar kau semakin dewasa.

Dewasa? Hahaha… Aku tak tau seperti apa kau memaknai kata itu. Tapi bagiku, bersikap dewasa tak lebih dari keharusan untuk semakin pintar dalam berpura pura. Pada titik ini kurasa aku tak perlu menjabarkannya lebih lanjut, sudah barang tentu kau mengerti maksudku bukan?

Ya sudahlah, aku sedang tak ingin menguliahimu macam macam. Di bawah ini telah aku pilih delapan lagu yang sengaja kususun sebagai hadiah ulang tahunmu. Kenapa delapan? Karena delapan itu tersusun dari lingkaran bulat, dan lingkaran bulat itu mengingatkanku padamu (seperti semua orang yang lain juga sepertinya).

Satu lagi, jangan protes dengan pilihanku. Bukankah pemberi hadiah punya hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat perihal apa yang akan diberikannya bukan? Dan lagi, telah berulang kali kau menyuruhku agar sekali kali bisa bersikap egois, anggap saja ini latihannya.

Jadi, mari kita mulai.

545ce-sigurros

Aku tahu kau tak pernah bisa merasa menjadi bagian dari kota ini. Mungkin pula benar kota ini bersikap tak ramah untukmu, membuatmu terasing dalam keriuhan. Maka, seperti yang diungkapkan Ben Gibbard, vokalis Death Cab For Cutie, dalam “You Are The Tourist”, aku rasa inilah waktu yang tepat untukmu beranjak pergi dari sini.

“When there’s doubt within your mind, because you’re thinking all the time. Framming right into wrongs. Move along, move along.”

Ohh iya, aku baru ingat, sebentar lagi kan kau memang akan pergi dari kota ini. Tapi ya sudahlah, biarkan saja Death Cab For Cutie tetap ada di mixtape. Anggap saja sebagai pengingat jika kau merasakan hal yang sama dengan tempat pindahmu kelak.

Pilihan kedua dalam mixtape yang kususun ini jatuh pada salah satu lagu Banda Neira yang berjudul “Di Beranda”. Lagu yang syahdu sekali menurutku, percakapan sepasang orang tua yang berusaha ikhlas dalam melepas kepergian anak kesayangannya.

“Dan jika suatu saat, buah hatiku, buah hatimu, untuk sementara waktu pergi, usahlah kau pertanyakan kemana kakinya kan melangkah.”

Tak perlu dipungkiri, memang berat rasanya melepas sementara waktu orang yang kita sayangi. Tapi kalau kepergian orang tersebut adalah hal yang memang harus dia lalui demi kebaikan, adakah hak kita untuk menghalanginya? Lagipula kau harus tahu, sama seperti yang orang tuamu rasakan terhadapmu, “Kita berdua tahu, dia pasti, pulang ke rumah.”

Lagu selanjutnya berasal dari salah satu band folk kesukaanku, Knee and Toes. Sejujurnya aku tak memiliki sedikitpun bayangan kemana lagi kau akan pergi setelah ini, ke negeri sakura kah, daratan berdebu di Amerika, atau malah kembali bertemu dengan musim dingin Eropa Utara sana?

Kemanapun itu, kurasa lagu berjudul “A Journey” ini pas sebagai pengantar kepergianmu yang tak akan lama lagi itu.

“Find the way, find the treasure. Listen to your heart and follow your dream,” terdengar familiar rasanya, mirip kata kata sang alchemist dalam buku karangan Paulo Coelho kesukaanmu.

Aku sudah lupa berapa kali kau bercerita padaku, hampir bosan sebenarnya, bahwa kau ingin sekali pergi ke tempatmu tinggal beberapa tahun yang lalu, ke tempat yang begitu dingin kurasa, negeri yang tak jauh dari Kutub Utara sana. Tapi barangkali rasa cinta mu itu memang bisa mengalahkan apa saja, salju pun mungkin bisa meleleh dibuatnya. Dan “Northern Sky” yang dinyanyikan Mister And Missisippi ini mungkin pas dengan apa yang kau rasakan saat ini bukan?

Barangkali kenyataan dalam hidup tak selalu ber-ending seperti cerita FTV, dimana setiap tokoh akhirnya tersenyum bahagia dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Kau tau, kadang percintaan bisa kandas di tengah jalan, seperti juga mimpi indah yang akhirnya berakhir dalam tong sampah.

“Oh someday sometime, youll stuck in loneliness and disappointment, and you cried loud. Oh someday sometime, things turn bad and you will be upset and crying loud,” begitu kata Aurette and The Polska Seeking Seeking Carnival pada lagu berjudul “Someday Sometime” yang termuat dalam album perdana mereka. Toh memang ada beberapa hal yang terjadi di luar kuasa kita.

Kukira wajar jika suatu saat kelak kau tiba tiba merasa sendirian, merasa terpisah dengan orang orang lain yang bertingkah seperti orang aneh dan tak wajar di matamu.

“Why’s everybody actin funny? Why’s everybody look so strange?” seperti ratap penuh emosi Dean Wareham dari kolektif Galaxy 500 dalam lagunya yang berjudul “Strange”.

Ada kalanya kau memang harus melawan, tapi mungkin juga ada waktu kau harus menerima kenyataan dan berdamai dengannya. Saat itu tiba, luangkan waktumu untuk melakukan hal hal kecil yang bisa membuatmu merasa lebih enakan, dan tunggulah sampai semua mereda.

“I stood in line and ate my twinkies. I stood in line, I had to wait.”

Ketika kau terjatuh, seorang teman mungkin bisa membantumu berdiri, tapi sebenar-benarnya yang bisa membuatmu berdiri tegak kembali adalah dirimu sendiri.

“Mungkin kini ku lelah, tak berarti mudah tuk terlelap. Saat semua berjalan lambat, saat banyak hal yang dikorbankan, saat tak ada yang bersuara. Tersenyumlah, tersenyumlah lebar, dan tunjuk ke atas.”

Aku tak perlu bercerita apa apa tentang lagu yang barusan saja kau baca liriknya, cukuplah kau dengarkan saja lagu berjudul “#1” dari The Morning After ini, dan tentukan sendiri bagaimana kau akan memaknainya.

Rasanya aku harus kembali pada bahasan pertama yang kupakai untuk membuka tulisan ini, tentang pertambahan usia. Benar bahwa semakin bertambah usia kita maka akan bertambah pula tanggung jawab kita, kenyataan yang tak akan pernah bisa kita hindari.

Tapi kurasa seharusnya hal tersebut tak boleh mengurangi keceriaan kita dalam menjalani kehidupan bukan? Dan dalam hal ini, tak pernah ada lagu lain yang cocok selain “Hoppippola/Med Bloodnasir” milik band post rock yang baru saja kutonton di Jakarta, Sigur Ros.

Coba kau lihat video clip nya, setelahnya aku yakin kau pun setuju bahwa menjadi tua tak boleh membuat kita menjadi terlalu serius dan akhirnya berubah membosankan.

Selamat bertambah tua! Tetaplah bersenang senang!! Hahaha…

Bintaro, Mei 2013.

ps: lagu lagu di atas diartikan seenaknya saja oleh saya, kalau salah silahkan artikan sendiri.