Lima Gig Paling Berkesan di Tahun 2014

Kita semua tahu bahwa ada banyak cara untuk menikmati sebuah karya musik. Kita bisa mendengarkannya lewat kaset, memutarnya di atas turntable, memilih channel MTV di layar televisi, berselancar di layanan streaming kanal video youtube atau mungkin, menyaksikannya langsung di atas panggung.

Untuk sebagian orang, bisa jadi yang akan menimbulkan kesan dan pengalaman dengan rasa yang paling kaya adalah menyaksikannya langsung di atas panggung. Menonton konser. Gig.

Di sana, kita tidak hanya menikmati musik secara “audio“, tetapi dari sisi “visual” juga. Tata panggung, kostum pemain dan atau performance art yang sengaja dihadirkan untuk mengiringi penampilan musiknya sebagai sebuah kesatuan cerita yang berkelindan.

Kasus khusus untuk beberapa band, sesi orasi yang “mencerdaskan”.

P1020521

Lain itu, ada kedekatan personal yang tercipta lewat tatap mata antara pemain dan penonton. Ini terutama pada gig yang diadakan di tempat yang berukuran relatif kecil seperti studio, bar atau cafe.

Plus, bonus-bonus kecil lain yang akan kita dapati seperti lengkingan vokal yang tidak sampai nadanya, petikan gitar yang fals atau tempo drum yang tidak pas pada waktunya.

Buat saya, justru bonus-bonus kecil ini yang seringkali menjadi penting karena perihal inilah yang membuat kita memahami bahwa pada dasarnya musik adalah soal tentang manusia juga, bukan hal mekanik seperti robot yang selalu berjalan tanpa cela.

Tahun 2014 lalu saya lumayan banyak mendatangi gig. Belasan kali mungkin. Dari yang gratis sampai yang harus merogoh kocek agak dalam untuk membeli tiketnya. Dari yang penontonnya ramai sekali hingga gig yang hanya ditonton beberapa gelintir orang saja. Dari band yang sudah terkenal hingga antero mancanegara sampai band-band yang sedang meniti karir dan baru sekali-dua kali naik panggung. Pokoknya macam-macam, tergantung ke-selo-an saya buat mendatangi gig-gig tersebut.

Dan inilah lima yang paling berkesan diantaranya : Continue reading “Lima Gig Paling Berkesan di Tahun 2014”

Marjinal yang Bersemangat dan Dia yang Bersuara Sisir Tanah

Di samping sebuah rumah kaca yang terdapat di dalam taman kota, panggung itu diletakkan. Tidak besar, hanya seukuran kamar kost barangkali, sekitar empat kali lima meter luasnya. Di atasnya terlihat beberapa alat musik dan kelengkapannya–satu set drum, gitar, cajoon, stand up mic dan amplifier berwarna hitam di kedua sisi depan panggung. Enam buah lampu di belakangnya bersinar terang dan menyorot ke arah penonton, warnanya berubah secara berkala, merah, biru, putih dan hijau.

Malam itu saya sedang berada di Taman Menteng Jakarta. Seorang teman baik mengajak untuk datang ke sebuah acara bertema lingkungan yang digelar di sana. Pameran lukisan, pemutaran film “Silent Heroes” dan penampilan beberapa musisi; Social Kids, Marjinal dan Sisir Tanah. Continue reading “Marjinal yang Bersemangat dan Dia yang Bersuara Sisir Tanah”