Train Song

Karena satu dan lain hal, beberapa akhir pekan terakhir saya acap kali melewatkan malam hari di atas bangku panjang gerbong kereta. Ketika menggunakan kendaraan pribadi terasa menjemukan karena kemacetan yang kian lama semakin menjadi, kereta komuter menjadi pilihan yang menyenangkan untuk membawa saya pulang – pergi, dari dan ke pusat kota.

Seperti pada minggu kemarin misalnya. Usai menonton pementasan Tika And The Dissident dan Adrian Adioetomo di AtAmerica, saya menikmati sekitar 25 menit waktu santai yang sayangnya menjadi terasa begitu singkat dalam perjalanan dari Stasiun Sudirman hingga Stasiun Pondok Ranji, plus beberapa menit transit berganti kereta di Stasiun Tanah Abang.

Dalam selang waktu tersebut, ada  lima lagu yang berada dalam playlist pemutar musik saya. Lima lagu yang saya pilih tersebut, “tidak sangat sangat berkorelasi” sebenarnya, terutama menyoal konteks hubungan dengan perjalanan berkomuter saya. Berkorelasi, tapi dalam kadar yang rendah saja, itu pun kontradiktif, lebih berdasar pada suka suka saja proses pemilihannya.

9c5ec-scene-on-the-new-york-subway-1969-2

1. The Clash – Train In Vain (Stand By Me)

Lagu ini adalah track siluman yang muncul dalam album terbesar The Clash, London Calling. Saya menyebutnya siluman karena keberadaannya tidak tercantum dalam sleeve cover album yang legendaris itu (yang juga merupakan sindiran telak bagi musik Rock N Roll ala Elvis Preasley). Bagaimana tidak, track ini baru selesai direkam menjelang sesi akhir rekaman mereka, sedang sleeve cover album sudah masuk ke mesin percetakan.

Meski begitu, “Train In Vain” justru menjadi track pertama dari The Clash yang berhasil menyodok ke industri musik populer dengan berhasil masuk ke dalam chart Top 30 di Amerika Serikat. Lagu ini turut pula dimasukkan ke dalam The 500 Greatest Song of All Time versi majalah Rolling Stone di urutan ke 298.

Sebenarnya lagu ini terinspirasi oleh cerita yang miris nan menyedihkan. Perihal kisah cinta Mick Jones, bassist The Clash, yang kandas. Seringkali Jones menggunakan kereta api menuju kawasan Shepherds Bush, untuk menemui Viv Albertine, pacarnya. Sayang, meski sudah datang dari tempat yang jauh, terkadang Viv tak membolehkan Jones masuk ke dalam rumahnya, Viv hanya membiarkannya berdiri di seberang pintu. Maka Jones pun sekali lagi menggunakan kereta, kali ini untuk pulang, sebagai orang yang tertolak.

Dan abrakadabra, jadilah lagu ini.

Now I got a job, but it don’t pay
I need new clothes, I need somewhere to stay
But without all these things I can do

But without your love
I won’t make it through

But you don’t understand my point of view
I suppose there’s nothing I can do

2. M83 – Midnight City

Fenomena Skrillex dan kemunculan kembali Daft Punk seolah menjadi suntikan cairan infus yang baru di skena danceelectronic music yang di awal dekade ini seperti tenggelam. Satu nama lain yang tidak boleh dilupakan tentunya adalah M83, kolektif dari Prancis yang terdiri dari Antony Gonzales, Morgan Kibby, Jordan Lawlor, Louic Maurin dan Ian Young.

“Midnight City” adalah single pertama di album keenam M83, Hurry Up, We’re Dreaming yang dirilis di pertengahan tahun 2011 lalu. Lagunya benar benar mengasyikan, dengan suara vokalis yang atsmospheric, backsound yang ber-layer layer, dentuman drum lantai dansa dan suara saxophone yang muncul di penghujung lagu.

Ketika hari telah beranjak petang, entah kenapa saya selalu betah berlama lama menunggu datangnya kereta di Stasiun Sudirman. Auranya yang gloomy, kukira adalah satu penyebabnya. Tempat yang tepat untuk sejenak merasakan kedamaian, sedikit nostalgia, dan membiarkan diri untuk menjadi lebih melankolis. Berpikir tentang hidup dan kehidupan. Oke, ini sedikit berlebihan.

Waiting in a car
Waiting for a ride in the dark
The night city grows
Look at the horizon glow

Waiting in a car
Waiting for a ride in the dark
Drinking in the lights
Following the neon signs

Waiting for a word
Looking at the milky skyline
The city is my church
It wraps me in its blinding twilight

3. The S.I.G.I.T – Money Making

Commuter Line, begitu PT KAI memberikan label kepada kereta yang sedang saya tumpangi, adalah salah satu saksi yang bisa menjadi bukti kesibukan sebagian besar kaum urban Jakarta. Pada jam prime time, antara pukul enam sampai sembilan pagi dan lima hingga delapan petang, kita semua bisa melihat segala rupa bentuk manusia yang punya hajat di Jakarta. Anda bisa melihat pemuda necis berdasi, kakak kakak cantik yang bermode masa kini, ibu ibu pedagang buah di pasar pasar tradisional, para remaja berpakaian sekolah, hingga terkadang, aparat negara yang bersetelan coklat coklat.

Melihat segala rupa tersebut, saya teringat sebuah esai pendek yang kapan hari saya baca, judulnya “Tukang”, ditulis oleh Aris Setyawan, drummer Aurette And The Polska Seeking Carnival. Ada paparan menarik yang dia ungkap perihal sistem pendidikan yang sekarang berlangsung. Mengutip kritikan Piere Bourdieau, kaum intelektual pada akhirnya tidak akan menjadi corong bangsa, mereka tak akan jadi penggerak perubahan agar kehidupan kemanusiaan menjadi lebih baik. “Kaum intelektual” katanya, “setelah lulus kuliah akhirnya akan menjadi alat bagi korporat, untuk menggerakan roda perputaran uang.”

Melihat realita sekarang ini, agaknya esai Aris Setyawan benar benar tepat sasaran. Ada beberapa orang yang akhirnya berani mengambil sikap dan melawan pola sekolah – kuliah – pegawai, memilih untuk menjadi relawan LSM, penulis, seniman atau beberapa aktivitas non profit lain, tapi toh jumlahnya tidak banyak. Sekarang, dimana banyak orang terjebak pada paradigma bahwa parameter kebahagiaan dinilai dari seberapa banyak kekayaan, atau kesuksesan yang diukur dari jumlah nominal di rekening tabungan, menjadi part yang menyusun mesin pencetak uang itu adalah pilihan yang akhirnya banyak kita ambil.

Dan di dalam commuter line yang melaju ini lah, salah satunya, kita bisa melihat bentuk orang orang tersebut. Sepertinya saya adalah salah satunya.

Who neds to be a debaser
All we need is to be a survivor
We’ve been searching for answer
But what school has taught were money making

Money making
A search for a thrive
Money making
Design for a life
Money making
Work untill five
Money making hell

4. College ft Electric Youth – A Real Hero

Beberapa hari yang lalu kita baru saja meninggalkan tanggal 17 Agustus, hari dimana proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dikumandangkan. Maka perihal kepahlawanan adalah sesuatu yang lazimnya kita dengar belakangan ini.

Bolehlah kita kemudian meragu dan mulai bertanya, siapakah para pahlawan itu? Atau, meminjam salah satu wacana polemik yang tempo hari sempat ramai, atas dasar apa seseorang bisa diberikan gelar pahlawan?

Menurut lagu College ft Electric Youth ini, definisi pahlawan bukanlah sesuatu yang sifatnya monumental, sesuatu yang sakral, sesuatu yang wahh. Pahlawan dalam penggambaran mereka, adalah orang orang yang biasa biasa saja. Mereka bisa saja, seorang petani, pustakawan, penerjemah, petugas jagawana, atau seperti dalam lirik mereka seorang pilot pesawat terbang. Mereka para pahlawan ini, adalah mereka yang tahu apa yang mereka kerjakan, mereka yang melakukan pekerjaan mereka dengan sebaik baiknya, mereka yang meminjam kalimat Zen RS, “adalah yang tidak merutuki gelap, tapi memilih menyalakan lilin, betapa pun sayu dan kecilnya nyala lilin itu.”

Pahlawan kukira adalah, mereka yang menjadi manusia, manusiawi, selayaknya seorang manusia.

A pilot on a cold, cold morn’ (morning)
155 people on board
All safe and all rescued
From the slowly sinking ship
Water warmer than
His head so cool
And that type “I knew what to do”

And you, have proved, to be
A real human being
And a real hero

5. Bangkutaman – Ode Buat Kota

Berbicara mengenai Commuter Line, sekali lagi, tentunya berkaitan erat dengan profil Jakarta sebagai sebuah kota. Dan mengenai Jakarta, menurut saya lagu Bangkutaman berikut ini adalah penggambaran yang menarik tentang Jakarta. Ketika banyak musisi lain menceritakan Jakarta dalam sisi menyebalkannya, Acum, Irwin dan Dedyk menyanyikan Jakarta versi mereka dari sisi yang berbeda; satir, tapi humanis dan terasa bersahabat.

Hubungan banyak orang dengan Jakarta, kukira, adalah seperti seperti sepasang kekasih yang gamang, mereka putus tapi masih saling mencinta, memakai bahasa selebritas, terjebak dalam relasi love and hate. Pada satu saat mereka saling memaki, di suatu ketika yang lain saling merindu dengan dahsyatnya. Ada harapan dalam hubungan itu, juga bayang bayang kegagalan, mirip seperti yang dirasakan para Jakartans bukan?

Dan siapa pula yang tak akan tergerak ikut bersenandung mendengar lagu seriang ini, koor massal “naa na na na na naa naa” bersama. Sing along yang hampir selalu ada di setiap konser mereka.

Tuk suara bising di tiap jalan
Tuk suara kaki yang berlalu lalang
Tuk suara sirene raja jalanan
Tuk suara sumbang yang terus berdentang
Na na na nana nana na, na na na nana, na na na nana..

Di sinilah aku dibesarkan
Di hamparan sungai yang kian hitam
Di ujung jalan sempit yang terus tergenang
Di bawah jembatan ku bernyanyi riang
Na na na nana nana na, na na na nana, na na na nana..

Kubernyanyi untuk dia yang kesepian di tengah malam
Kubernyanyi untuk dia yang tak bisa pulang
Kubernyanyi untuk dia yang membunuh waktu di tengah kebosanan
Kubernyanyi untuk dia yang sendiri dan tak bertuan
Na na na nana nana na, na na na nana, na na na nana..

Bintaro, Agustus 2013.

ps : judul dipilih dari salah satu track Bangkutaman di album Ode Buat Kota. Ohh iya, barusan tadi Acum duduk tepat di belakang saya, benar benar kebetulan yang menyenangkan. 

Early Years Playlist

The Trees and The Wild pada “Saija” memaklumatkan satu kenyataan yang teramat nyata, bahwa yang tak diam kepada kita hanyalah waktu. Sama seperti tahun ini, sulit untuk menyadari bahwa kita sudah meninggalkan lembar penanggalan yang kedua, beberapa hari lagi bahkan la luna akan berpurnama untuk kali ketiga.

Pada tahun ini pula saya akhirnya mulai ikut meramaikan ruwetnya ibu kota. Menjadi kaum urban, mengadu nasib di kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. Meninggalkan ritme kehidupan yang sungguh selo beberapa bulan sebelumnya, membaur pada rutinitas keseharian masyarakat metropolitan.

Satu hal mengenai rutinitas, bahwa mau tidak mau kita harus menghadapi hal yang sama dalam rentang waktu yang seolah tanpa batas itu, dari hal menyenangkan dan terutama yang mengesalkan. Maka salah satu hal yang terkadang membuat saya malas dalam memulai hari adalah membayangkan bahwa selama beberapa belas jam ke depan akan terpenjara dalam rekursif yang itu itu saja.

Oh iya, akhir akhir ini saya punya beberapa lagu yang menjadi heavy rotation dalam playlist saya tiap harinya, terutama ketika berada di ruangan kantor. Kata seorang kawan, hidup tanpa musik yang terngiang di kepala itu seperti film tanpa soundtrack, sepi kali ya rasanya.

1. Efek Rumah Kaca – Menjadi Indonesia

Beberapa saat setelah kau terbangun dari mimpimu, diantara kesadaran yang sewajarnya belum penuh terkumpulkan, coba paksakan dirimu untuk sejenak mendengarkan lagu ini, maka aku yakin kau akan lekas melepas selimut yang masih menghangatkan badanmu dan kemudian segera beranjak dari tempatmu tidur malam tadi.

Dimulai intro yang begitu catchy, dengan bebunyian drum yang mantap, disambung petikan lembut gitar yang mengalun dengan jernih, mengalirlah suara Cholil Machmud yang menerawang.

Terlepas dari musiknya yang “getir”, Menjadi Indonesia menurut saya adalah salah satu lagu paling keren yang dimiliki oleh trio indie pop asal Jakarta ini. Menjadi Indonesia mampu mengajak kita untuk memaknai (makna) nasionalisme dalam kontekstual yang berbeda, bukan sebagai jargon kosong yang pada tahun tahun belakangan sering diejawantahkan secara serampangan dalam bentuk “Ganyang Malaysia, dll”.

Lagu ini menohok ketidakacuhan yang mungkin kita miliki, bahwa masih banyak sekali hal yang harus dilakukan di luar sana. Pas sekali didengarkan sebelum memulai aktivitas.

2. Libertines – Don’t Look Back Into The Sun

Meski sering diperbandingkan (dipersamakan), Libertines memiliki nasib yang berbeda jauh dengan The Strokes, dua band yang sering dianggap sebagai revivalist musik rock di awal medio 2000an. Ketika The Strokes terus bertahan dan mengalami perkembangan yang signifikan (baca mengerikan, saya sampai sekarang masih merasa tidak nyaman dengan rilisan single album terbaru mereka), Libertines akhirnya bubar di tengah jalan, bisa dibilang ketika berada di masa keemasannya.

Dari umurnya yang tak lama tersebut, “Don’t Look Back Into The Sun” adalah lagu yang paling saya suka. Sebenarnya sudah lumayan lama saya tidak mendengarkan Libertines, tapi secara kebetulan saya menemukan video di youtube ketika mereka reunian di Reading dan menyanyikan lagu ini. Dan versi live ini lah yang banyak saya dengarkan.

Selalu menyenangkan mendengar kedua sahabat yang membidani lahirnya (juga bubarnya) Libertines, Pete Doherty dan Carl Barat saling menimpali suara, bersahut sahutan sepanjang lagu. Tak banyak yang lebih indah dari perkawanan dua orang sahabat bukan?

Aduh kenapa malah jadi terdengar nggilani. Hahhaa.

3. MGMT – Time To Pretend

Ada satu adegan di serial Skins yang selalu saya stop dan saya ulang berkali kali ketika menontonnya. Pada ending season kedua yang sekaligus menjadi akhir dari Skins generasi pertama, ketika Sid berangkat ke New York untuk mencari Cassie, backsound yang dipilih oleh Bryan Elsey sungguh sempurna, “Time To Pretend”.

“Time to Pretend” pertama kali dirilis pada tahun 2008, masuk pada EP pertama MGMT, Time To Pretend EP. Lagu ini mendapat banyak review yang bagus dari para kritikus, pun diterima dengan mudah oleh masyarakat luas. Oleh majalah Rolling Stone, lagu ini dimasukkan dalam jajaran Rolling Stone’s 500 Greatest Songs of All Time, tercantum pada urutan 493.

Ini adalah lagu yang secara telak menyindir gaya hidup kaum metropolitan. MGMT secara cerdas dan bernas mampu bercerita dalam lagu yang berdurasi sekitar empat menit ini. Bahwa hidup bukan saja perihal mencari ketenaran, mengumpulkan banyak uang dan menghabiskannya untuk bersenang senang. Pada akhirnya ada banyak hal yang jauh lebih esensial dari itu semua.

Work hard, play hard? Yang benar saja, Bung.

4. The Clash – London Calling

Intro lagu ini terdengar sangat mengerikan, cabikan bass dan dentuman drum yang seolah siap menyambut peperangan, tepat di garis paling depan. Cocok sebagai original sountrack sebuah kerusuhan besar, seperti dalam salah satu adegan Billy Elliot misalnya. Liriknya pun garang, sadis dan mematikan. Bayangkan saja, siapa penggemar Beatles yang tidak akan tertohok mendengar bait kalimat ini.

“London calling, now don’t look to us. Phoney Beatlemania has bitten the dust.”

Lagu ini masuk dalam album London Calling yang dirilis sekitar tahun 1979-1980. Sebagai sebuah band punk yang lekat dengan tradisi anti kemapanan, album ini terhitung cukup laku, kabarnya omzet penjualan mencapai dua juta kopi.

Entah kenapa, setiap mendengarkan lagu ini ada semacam semangat (kemarahan) yang meluap luap yang saya rasakan. Terpengaruh liriknya yang provokatif mungkin.

5. The Trees and The Wild – Verdure

Ketika mayoritas masyarakat Indonesia sedang dan masih saja terus berharap bahwa pada akhirnya nanti Agnes Monica akan sukses menuju panggung internasional, sayup sayup dan jauh dari pemberitaan, The Trees and The Wild jauh hari telah berhasil melakukannya. Berkali kali mereka diundang sebagai penampil di festival festival musik luar negeri sana. Debut album mereka, Rasuk, bahkan membuat majalah TIME menobatkan mereka sebagai Five New Band to Watch.

“Verdure” adalah lagu pembuka dalam album Rasuk.  Intronya keren, liukan solo gitar dan backsound megah di belakangnya, yang kemudian langsung bertransisi dengan dramatis, turun ketika masuk ke sesi vokal.

“Hush now, the morning’s is too dark
High as a kite, as blue as your eyes
I’m putting out reasons, and see how far it’ll go
Go waste your time, with those heart.”

“Verdure” adalah lagu yang paling tidak saya inginkan ada di playlist ini sebenarnya. Bukan karena saya tidak suka, tapi mendengarkan lagu ini terasa begitu menyiksa, liriknya nggerus banget. Atau mungkin benar manusia memang aneh, bisa menikmati rasa sakit sebagai candu yang menyenangkan. Hahaha.

Jakarta, Maret 2013.