Themilo di Balkot Fest 2012

Sudah jam 15.45. Hujan di luar tidak menunjukkan tanda akan berhenti. Malah makin lebat saja sepertinya, keras bertumbuk pada atap kayu saung belakang sekretariat. Tak ayal saya mulai meragu, akan jadi pergi atau tidak sore ini.

Namun setelah satu dua menit menyempatkan waktu untuk berpikir, rerasa sayang juga kalau rencana yang sudah tersusun pada minggu sebelumnya berantakan hanya karena turunnya hujan. Maka berbekal raincoat, ponco dan motor yang semuanya pinjaman, berangkat juga saya ke kota. Hasrat yang sebenarnya sudah hampir berkarat.

Motor melaju kencang, menembus hujan dan barisan mobil yang merayap pelan. Seperti tergesa karena waktu yang mungkin tidak bersisa. “Musti bergegas lebih cepat,” ucap saya dalam hati. Dan Buahbatu, Karapitan hingga BIP pun cepat terlewati.

Usai meletakkan motor, handphone kembali saya tengok. Sudah lebih seperempat dari pukul empat. Bergegas kaki melangkah, melewati gerbang yang hanya dibuka separo saja, bersisian dengan beberapa orang yang melintas dengan payung di atas kepala.

Dan di Balaikota Bandung lah sore ini saya berada.

***

Berawal dari informasi bahwa akan ada Themilo sebagai bintang tamu di acara Balkot Festival 2012, semenjak itu pula muncul keinginan yang menggebu untuk kembali menyaksikan penampilan live mereka. Ingin sejenak merilekskan jiwa melalui harmoni suara meraung yang meruang, pada alunan nada musik yang mengawang.

92735-2012-11-1818-09-06

Beruntung, karena satu dan lain hal, akhirnya jadwal Themilo yang seharusnya dimulai pada pukul 16.00 diundur hingga setelah maghrib, mereka didaulat menjadi penutup acara Balkot Festival.

“Mungkin sponsornya memang sengaja pengen Themilo tampil terakhir”, kira kira seperti itu kata Ajie sang vokalis kepada segelintir penonton yang langsung merapat ke depan panggung.

Bagaimanapun juga, penampilan Themilo sepertinya memang lebih cocok ditonton ketika suasana telah beranjak dalam kegelapan. “Lights low, Volume high, Fantasizing”. Lebih mengena.

“The Lights” dipilih sebagai lagu pembuka, single terbaru yang dengan sukses membius para penonton. Ditambah oleh gerimis yang masih saja merintik, suasana pun terasa makin sendu dan syahdu.

Penonton pun diracun lewat lagu kedua yang dimainkan, lagu lawas dari album pertama yang berjudul “Sianida”. Pada lagu kedua ini Ajie memanggil seorang perempuan cantik yang sedari tadi sudah tampak berada di panggung untuk ikut bernyanyi dan menyumbangkan suaranya. Yustie, begitu Ajie memperkenalkan namanya. Sayang sepertinya ada sedikit masalah pada mic yang dipakai karena suara yang keluar tidak begitu jelas terdengar.

Terputus sebentar oleh pengumuman penutupan acara dari Wakil Walikota Bandung, “For All The Dreams That Wings Could Fly” dipilih sebagai lagu penutup. Ya, sebagai penutup karena ternyata hanya tiga lagu saja yang akan dibawakan Themilo kali ini. Dan mengetahui bahwa ini adalah lagu terakhir, saya pun makin mendekat ke arah panggung. Ingin ber-eargazing sepuasnya. Sepuas-puasnya.

***

Malam belum berlalu terlampau larut, orang orang masih berlalu lalang. Saya memisahkan diri dari keramaian, earphone telah terpasang di kedua telinga saya, playlist juga sudah rapi tersusun. Maka saya pun siap memulai sesi eargazing lanjutan malam ini. Masih bersama Themilo tentunya.

Bandung, November 2012.

Shoegazing With Themilo

Dalam banyak hal yang ada di dunia, keseimbangan menjadi sebuah keadaan yang berusaha dicapai oleh setiap manusia. Ketika kondisi keseimbangan yang sudah ada mengalami sebuah gangguan, maka akan dilakukan sebuah mekanisme diri untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi tersebut. Konsep ini berlaku pula pada kejiwaan manusia, ketika hati dan otak tidak mampu bekerja sama secara seimbang, maka kondisi kejiwaan yang labil (atau bahkan galau) adalah sebuah konsekuensi yang harus ditanggung.

Sejak kemunculannya sekitar akhir periode 1980an, shoegaze sering mendapat label sebagai musik yang bernuansa galau. Suara vokal yang mengambang tanpa emosi dan bebunyian aneh yang dimunculkan dari efek delay dan reverb menimbulkan kesan dalam yang gelap. Shoegaze seolah memainkan emosi pendengarnya sampai ke titik paling jauh yang bisa dirasakannya.

Hari minggu kemarin adalah pengalaman pertama saya menyaksikan sebuah pertunjukkan genre musik ini. Tidak tanggung tangung, saya berkesempatan untuk menonton satu band yang dianggap sebagai pelopor shoegaze di Indonesia, Themilo. Oiya, jangan beripikir saya sedang galau.

***

Gedung Sate tampak ramai sore itu. Ruas Jalan Diponegoro diblokir untuk pelaksanaan event LA Light Streetball. Tapi bukan itu acara tujuan saya. Tepat di halaman depan gedung yang menjadi landmark Kota Bandung ini sedang berlangsung sebuah acara bertajuk mOalbebeja, sebuah bazar event yang diadakan oleh myOyeah. Ada berbagai macam kios dengan aneka jualannya. Karena Themilo baru akan naik pentas pukul 20.00, saya pun berkeliling terlebih dahulu.

Langkah kaki saya terhenti di stand subterrestril. Seorang biduan wanita sedang berteriak teriak di belakang standup mic, scream yang diiringi cabikan liar pembetot bass dan gitar dibelakangnya, dengan dentuman penuh tenaga sang penggebuk drum. Sekumpulan penonton mulai saling bertubrukan, moshing. Saya mengambil jarak aman, tidak terlampau jauh untuk menikmati raungan musik namun tak terlampau dekat pula dengan kerumunan penonton yang menggila.

Beralih ke panggung utama, kru tampak berlalu lalang menyiapkan alat alat musik. Saya melihat jam, sudah pukul delapan lewat, sebentar lagi pertunjukan yang saya tunggu akan dimulai. Akhirnya lampu panggung mulai dinyalakan, dengan gitar yang tersampir Ajie Gergaji, vokalis Themilo sudah berdiri di depan mic.

Penonton pun merapat ke depan panggung, termasuk saya. “Light” dipilih menjadi lagu pembuka show malam itu. Langsung dilanjut dengan “Dream” dan “Romantic Purple”. Suasana gelap mulai menyeruak, terhembus pada udara yang mengalir di antara puluhan penonton yang mulai terhanyut pada distorsi nada yang mengalun dari pengeras suara. Magis.

“Malam ini mau ngegalau apa senang senang?” sapa Ajie kepada penonton.

“Galau.” jawab penonton sambil tertawa.

Lalu salah satu lagu andalan di album Photograph pun mulai terlantun, “Don’t Worry For Being Alone”.

c7473-_dsc0160

***

There’s something you could found
In the dark.
The beat that you can feel inside
And it won’t make you sad
You will know.
Don’t Worry For Being Alone.

***

Ahh saya ikut terhanyut. Sesuatu yang bergelora mulai mengaduk aduk perasaan, seiring dengan ambient yang sedang terdendangkan. Mungkin ini yang sering disebut oleh penggemar shoegaze sebagai “Eargasme”. Bukan hanya terhanyut, saya mulai terlarut.

Saya belum pernah menonton konser shoegaze sebelumnya, tapi dibandingkan dengan konser yang lain, para personel Themilo memang tidak terlalu banyak mengumbar emosi. Mukanya datar-datar saja. Mungkin lewat musiklah ekspresi emosi mereka disampaikan. Lalu dengan sedikit orasi mengenai penyesalan yang disampaikan oleh Ajie, “So Regret” menjadi lagu selanjutnya yang mereka mainkan. Betapa lagu ini semakin mengaduk aduk emosi saya. Liriknya yang dalam tentang penyesalan terasa begitu menohok.

Awalnya saya ingin banyak mengabadikan konser ini lewat kamera yang sudah saya bawa. Tapi karena baterai yang sudah tiris dan malas untuk beranjak dari posisi saya saat itu, foto-foto yang saya ambil hanya berasal dari satu angle saja.

Kemudian salah satu lagu favorit saya akhirnya mengalun. Saya mendengar lagu ini pertama kali di acara Radioshow, dan bermula dari lagu inilah saya mulai mendengarkan lagu lagu dari Themilo. Sepertinya saya wajib bersyukur malam itu menonton penampilan mereka.

382f0-4

***

Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam
Semua nyata hati pun terluka
Gerak ini telah terdiam hati telah tertoreh pisau yang keji
Semua nyata akankah kau percaya?

Inginan bisikan terdalam, celoteh gagak terdengar
Apakah kau kan percaya?
Semua telah usai tak terbayang, celoteh gagak terdengar
Daun dan Ranting menuju surga.

Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam
Semua nyata hati pun terluka.

***

Lagu yang dipilih sebagi penutup pentas malam itu adalah “For All The Dreams That Wings Could Fly”. Dengan baterai kamera yang sudah berkedip, saya mengabadikan penampilan terakhir Themilo itu pada video di bawah ini. Dalam hati saya masih berharap “Apart” akan dimainkan, mungkin ini pertanda bagi saya untuk menonton Themilo lagi di waktu waktu selanjutnya. Semoga.

***

a1758-_dsc0189

Dalam siklus kehidupan seorang manusia, ada kalanya kita akan mengalami tekanan yang begitu beratnya. Ada saatnya kita merasa jatuh dan terjerumus dalam lubang keputusasaan yang teramat dalam. Namun bukan berarti kita harus berakhir di titik tersebut. Bangkit dari keterpurukan dan lawanlah semua yang menghadang. Seperti kata Themilo, saatnya menghadapi hidup yang remuk dan menghapuskan semua kenangan yang kelam.

Bandung, Juni 2012